Pendahuluan
Bayangkan kamu menemukan tulisan seperti ini:
ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
Bagi mata yang belum terbiasa, bentuknya mungkin tampak seperti gambar kecil yang indah. Tetapi bagi orang yang mengenal aksara Lontara, tulisan itu dapat dibaca sebagai basa Ugi, yang berarti bahasa Bugis. Dari sinilah perjalanan buku ini dimulai: dari melihat bentuk yang terasa asing, lalu perlahan-lahan mengenali bunyinya, membaca suku katanya, memahami katanya, dan akhirnya membaca kalimat Bugis sederhana.
Buku ini ditulis untuk pemula. Kamu tidak perlu sudah bisa bahasa Bugis. Kamu juga tidak perlu sudah mengenal aksara daerah lain. Yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk membaca pelan-pelan, menirukan bunyi, dan berlatih sedikit demi sedikit. Dalam buku ini, kita akan belajar bahwa membaca aksara bukanlah menghafal bentuk semata. Membaca aksara berarti menghubungkan tanda, bunyi, dan makna.
Tanda adalah bentuk yang kita lihat, misalnya ᨀ.
Bunyi adalah suara yang kita ucapkan, misalnya ka.
Makna adalah arti yang dipahami dari kata atau kalimat, misalnya ketika sebuah kata dipakai untuk menyapa, menyebut benda, atau memperkenalkan diri.
Lontara adalah salah satu aksara tradisional yang penting di Sulawesi Selatan. Aksara ini terutama dikenal dalam tradisi tulis Bugis dan Makassar, dengan variasi bentuk dan pemakaian yang dapat berbeda menurut naskah, daerah, dan masa penulisannya (Noorduyn, 1993). Dalam kehidupan budaya, kata lontara juga sering berhubungan dengan naskah, catatan, silsilah, cerita, hukum adat, dan ingatan masyarakat. Jadi, ketika kita belajar Lontara, kita tidak hanya belajar bentuk huruf. Kita juga sedang mendekati salah satu pintu masuk menuju sejarah dan budaya Bugis-Makassar.
Bahasa Bugis sendiri adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Bugis, terutama berakar di Sulawesi Selatan, tetapi penuturnya juga tersebar ke banyak daerah lain karena sejarah pelayaran, perdagangan, dan perpindahan masyarakat Bugis (Pelras, 1996). Dalam bahasa Bugis, nama diri untuk orang Bugis sering berhubungan dengan kata Ugi. Karena itu, kamu akan menemukan bentuk seperti to Ugi untuk “orang Bugis” dan basa Ugi untuk “bahasa Bugis” dalam pembelajaran dasar.
Sebelum masuk ke huruf-hurufnya, kita perlu memahami satu gagasan penting: Lontara bekerja berbeda dari alfabet Latin yang biasa kita pakai dalam bahasa Indonesia. Dalam alfabet Latin, kata buku ditulis dengan huruf b-u-k-u, dan setiap huruf biasanya mewakili satu bunyi kecil. Dalam Lontara, satu tanda dasar biasanya sudah membawa bunyi suku kata dengan vokal a. Misalnya, tanda ᨀ pada dasarnya dibaca ka, bukan hanya k. Sistem seperti ini sering disebut aksara suku kata atau, dalam istilah ilmu tulisan, abugida. Unicode juga mengelompokkan aksara Bugis sebagai sistem tulisan yang memakai tanda dasar dan tanda vokal tambahan untuk membentuk bacaan suku kata (The Unicode Consortium, 2022).
Contohnya begini. Jika tanda dasar ᨀ dibaca ka, maka ketika diberi tanda vokal tertentu, bunyinya dapat berubah menjadi ki, ku, ke, atau ko. Kita akan mempelajari perubahan itu secara bertahap di bab-bab berikutnya. Untuk sekarang, cukup ingat satu hal: dalam Lontara, satu bentuk huruf sering langsung dibaca sebagai satu suku kata.
Mari bandingkan dengan contoh yang dekat dengan bahasa Indonesia.
Kata kaki dapat kita pecah menjadi dua suku kata:
ka-ki
Dalam Lontara, cara berpikir seperti ini sangat berguna. Kita tidak terburu-buru membaca satu kata utuh. Kita lihat dulu bagian-bagiannya. Kita baca suku kata pertama. Lalu suku kata kedua. Setelah itu, kita gabungkan.
Begitulah cara belajar dalam buku ini:
melihat bentuk, membaca bunyi, menggabungkan suku kata, lalu memahami kata.
Namun, kita juga perlu bersikap sabar. Lontara tradisional memiliki keunikan. Salah satunya, beberapa bunyi akhir kata tidak selalu dituliskan dengan jelas seperti dalam ejaan Latin. Variasi ejaan dan cara penulisan dalam tradisi Bugis-Makassar telah menjadi perhatian para peneliti naskah dan aksara, karena pembaca sering perlu memakai pengetahuan bahasa dan konteks untuk membaca dengan tepat (Noorduyn, 1993). Hal ini bukan berarti Lontara “kurang lengkap” atau “salah”. Itu berarti Lontara mempunyai aturan dan kebiasaan sendiri. Sama seperti bahasa Indonesia memiliki aturan sendiri, bahasa Bugis dan aksaranya juga memiliki cara kerja yang perlu dihormati.
Contoh sederhananya begini. Dalam bahasa Indonesia, kita terbiasa melihat huruf akhir pada kata seperti makan, minum, atau tempat. Dalam pembelajaran Lontara, nanti kita akan menemukan bahwa tidak semua bunyi akhir semacam itu selalu tampak langsung pada tulisan tradisional. Karena itu, pembaca Lontara perlu belajar dua hal sekaligus: bentuk aksara dan kosakata bahasa Bugis.
Buku ini akan membantu kamu melakukan keduanya secara perlahan.
Pada bab-bab awal, kita akan mengenal cara kerja Lontara. Kita akan mempelajari bahwa tulisan dibaca dari kiri ke kanan, mengenal huruf dasar, lalu melihat bagaimana tanda vokal mengubah bunyi huruf. Setelah itu, kita akan berlatih kelompok huruf satu per satu: kelompok ka, pa, ta, ca, dan seterusnya. Pembagian ini dibuat supaya mata dan telinga tidak terlalu penuh sekaligus. Belajar aksara mirip belajar alat musik: lebih baik menguasai beberapa nada dengan benar daripada memainkan banyak nada tetapi bingung.
Kemudian kita akan masuk ke kata-kata Bugis sederhana. Misalnya kata sapaan, anggota keluarga, benda di sekitar, angka dasar, dan ungkapan sopan. Kita akan melihat kata dalam huruf Latin lebih dulu, lalu melihat bentuk Lontaranya. Dengan cara ini, kamu dapat membangun jembatan dari tulisan yang sudah dikenal menuju tulisan yang baru dipelajari.
Perhatikan contoh kecil berikut:
basa Ugi
ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
“bahasa Bugis”
Kita belum perlu membahas semua hurufnya sekarang. Tetapi kamu sudah dapat melihat bahwa tulisan Lontara terdiri dari beberapa tanda yang disusun berurutan. Nanti, setelah mengenal huruf ᨅ, ᨔ, ᨕ, ᨁ, dan tanda vokalnya, tulisan ini tidak lagi tampak asing. Ia akan berubah menjadi sesuatu yang bisa kamu baca.
Itulah tujuan utama buku ini: membuat Lontara menjadi terbaca.
Bukan berarti setelah menyelesaikan buku ini kamu langsung menjadi ahli naskah kuno. Untuk membaca naskah Lontara lama, seseorang masih perlu belajar lebih banyak: kosakata yang lebih luas, tata bahasa Bugis, variasi ejaan, bentuk tulisan tangan, dan konteks budaya naskah. Tradisi tulis Bugis-Makassar sangat kaya, dan naskah-naskahnya menyimpan banyak jenis pengetahuan, mulai dari cerita, catatan sejarah, sampai aturan adat (Pelras, 1996). Buku ini adalah langkah pertama yang sederhana dan aman: mengenal huruf, membaca suku kata, membaca kata, lalu mencoba kalimat pendek.
Sambil belajar, kita juga akan menjaga sikap hormat. Aksara Lontara bukan sekadar bahan latihan. Ia adalah bagian dari warisan budaya. Banyak orang memakai, merawat, meneliti, mengajarkan, dan mewariskannya. Karena itu, ketika kita menulis nama orang, nama tempat, atau ungkapan dalam bahasa Bugis, kita akan berusaha teliti. Jika ada variasi ejaan atau pengucapan, kita akan mengakuinya dengan jujur. Dalam bahasa daerah, variasi bukan hal aneh. Variasi sering menunjukkan sejarah, wilayah, kebiasaan keluarga, atau tradisi penulisan tertentu.
Cara terbaik memakai buku ini adalah membaca dengan suara pelan. Jangan hanya melihat huruf. Ucapkan bunyinya. Misalnya, ketika nanti kamu belajar ᨀ sebagai ka, katakan “ka”. Ketika belajar perubahan menjadi ki atau ku, ucapkan juga. Telinga membantu mata. Semakin sering kamu menghubungkan bentuk dan bunyi, semakin cepat aksara terasa akrab.
Jika kamu merasa lambat, itu normal. Pada awalnya, satu huruf mungkin perlu dilihat berkali-kali. Tetapi setelah beberapa kali latihan, bentuk itu mulai menempel di ingatan. Huruf yang tadinya seperti gambar asing akan menjadi tanda yang bermakna. Inilah saat belajar aksara menjadi menyenangkan: kamu mulai bisa membaca sesuatu yang sebelumnya tertutup.
Mari kita mulai dengan tujuan sederhana:
Kita ingin dapat melihat aksara Lontara, mengenali huruf-huruf dasarnya, membaca suku katanya, dan memahami beberapa kata serta kalimat Bugis sederhana.
Langkah pertama bukan menguasai semuanya. Langkah pertama adalah mengenal cara kerjanya.
Pada bab berikutnya, kita akan mulai dari dasar: bagaimana aksara Lontara bekerja, mengapa banyak huruf dasarnya berbunyi dengan vokal a, dan bagaimana tanda vokal mengubah bunyi sebuah huruf.
Pelan-pelan saja. Huruf pertama akan membuka jalan untuk huruf kedua. Suku kata pertama akan membuka jalan untuk kata pertama. Dari sana, kita mulai membaca.
References
Noorduyn, J. (1993). Variation in the Bugis/Makassarese script. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 149(3), 533–570.
Pelras, C. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell.
The Unicode Consortium. (2022). The Unicode Standard, Version 15.0.0. Mountain View, CA: The Unicode Consortium. https://www.unicode.org/versions/Unicode15.0.0/