Author @hendri Verifier - Public
Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Download PDF Locked

Bab 14: Membaca Nama Orang dan Nama Tempat

Sekarang kita sampai pada bagian yang menyenangkan: membaca nama.

Nama terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kamu mungkin ingin menulis namamu sendiri, nama teman, nama kampung, nama kota, atau nama tempat budaya dalam aksara Lontara. Dengan begitu, Lontara tidak lagi hanya terlihat seperti bentuk huruf di buku. Lontara mulai menjadi alat untuk menyebut orang dan tempat yang kamu kenal.

Dalam bab ini, kita akan belajar membaca dan menulis nama sederhana, seperti:

ᨕᨒᨗ
Ali

ᨅᨚᨊᨙ
Boné

ᨈᨊ ᨕᨘᨁᨗ
Tana Ugi

Kita akan melakukannya pelan-pelan. Yang paling penting bukan cepat menulis banyak nama, melainkan memahami cara berpikirnya.

Lontara adalah aksara tradisional yang dipakai dalam lingkungan budaya Bugis-Makassar dan berkaitan dengan tradisi tulis naskah di Sulawesi Selatan (Pelras, 1996). Dalam bentuk digital modern, aksara Bugis/Lontara juga telah memiliki blok tersendiri dalam Unicode, sehingga dapat diketik dan dibaca di perangkat yang mendukungnya (The Unicode Consortium, 2022). Namun, seperti yang sudah kita pelajari di Bab 11, Lontara tradisional tidak selalu menuliskan semua bunyi yang biasa kita lihat dalam ejaan Latin. Karena itu, membaca nama perlu sedikit kesabaran.

Apa itu nama diri?

Nama diri adalah nama khusus untuk orang, tempat, atau hal tertentu.

Contoh nama diri dalam bahasa Indonesia:

  • Ali
  • Sari
  • Bone
  • Wajo
  • La Galigo

Nama diri berbeda dari kata umum. Kata rumah dapat menunjuk banyak rumah. Tetapi nama Bone menunjuk tempat tertentu. Nama Ali menunjuk orang tertentu.

Dalam tulisan Latin, nama diri biasanya diawali huruf kapital:

  • ali → bukan bentuk nama yang rapi dalam ejaan Indonesia
  • Ali → bentuk nama yang rapi

Dalam Lontara tradisional, kita tidak memakai huruf kapital seperti dalam alfabet Latin. Huruf tetap bentuknya sama, baik dipakai di awal nama maupun di tengah kata. Jadi, jika kita menulis Ali dalam Lontara, bentuknya:

ᨕᨒᨗ

Tidak ada perubahan khusus untuk huruf pertama.

Nama ditulis menurut bunyi

Saat menulis nama dalam Lontara, kita biasanya bertanya:

“Nama ini terdengar seperti suku kata apa?”

Bukan:

“Huruf Latin apa saja yang ada di dalam nama ini?”

Ini penting. Lontara bekerja sebagai aksara suku kata. Setiap huruf dasar membawa bunyi vokal /a/, lalu tanda vokal dapat mengubahnya menjadi i, u, é, o, atau bunyi e pepet, sesuai cara baca yang dipakai dalam buku ini.

Perhatikan contoh nama Mila.

Dalam Latin, kita melihat empat huruf:

M-i-l-a

Tetapi untuk Lontara, kita mendengarkan suku katanya:

Mi-la

Lalu kita tulis:

  • mi = ᨆᨗ
  • la =

Jadi:

Mila
ᨆᨗᨒ

Contoh lain:

Sari terdengar sebagai Sa-ri.

  • sa =
  • ri = ᨑᨗ

Maka:

Sari
ᨔᨑᨗ

Inilah kebiasaan utama dalam bab ini: pecah nama menjadi suku kata, lalu tulis suku katanya dalam Lontara.

Langkah membaca nama dalam Lontara

Untuk membaca nama, gunakan empat langkah sederhana.

Pertama, lihat huruf dari kiri ke kanan. Aksara Lontara modern ditulis dari kiri ke kanan, dan arah ini juga tercermin dalam pengodean aksara Bugis dalam Unicode (The Unicode Consortium, 2022).

Kedua, baca setiap huruf dasar dengan vokal yang melekat padanya. Jika tidak ada tanda vokal, bunyinya biasanya a.

Ketiga, perhatikan tanda vokal. Tanda itu mengubah ka menjadi ki, ku, , ko, dan seterusnya.

Keempat, gabungkan suku kata menjadi nama utuh.

Mari kita coba.

ᨅᨌᨚ

Langkahnya:

  • = ba
  • ᨌᨚ = co
  • gabungkan: ba-co

Jadi:

ᨅᨌᨚ
Baco

Contoh lain:

ᨒᨗᨊ

  • ᨒᨗ = li
  • = na
  • gabungkan: li-na

Jadi:

ᨒᨗᨊ
Lina

Jangan terburu-buru. Pembaca yang baik sering membaca dengan mata, lalu mengulang bunyinya dalam hati.

Menulis nama orang yang sederhana

Kita mulai dari nama yang bunyinya mudah ditulis dalam Lontara. Nama-nama di bawah ini dipilih karena suku katanya jelas dan tidak banyak mengandung bunyi akhir yang sulit ditandai.

Nama Latin Pecahan suku kata Lontara Cara baca
Ali A-li ᨕᨒᨗ a-li
Mila Mi-la ᨆᨗᨒ mi-la
Lina Li-na ᨒᨗᨊ li-na
Sari Sa-ri ᨔᨑᨗ sa-ri
Rima Ri-ma ᨑᨗᨆ ri-ma
Wati Wa-ti ᨓᨈᨗ wa-ti
Baco Ba-co ᨅᨌᨚ ba-co
Baso Ba-so ᨅᨔᨚ ba-so

Perhatikan nama Ali. Nama itu dimulai dengan bunyi vokal a. Dalam Lontara, bunyi vokal awal dapat ditulis dengan huruf , yaitu huruf dasar yang berbunyi a. Jika bunyinya berubah menjadi i, u, é, atau o, huruf juga dapat diberi tanda vokal.

Contoh:

  • a =
  • i = ᨕᨗ
  • u = ᨕᨘ
  • é = ᨕᨙ
  • o = ᨕᨚ

Karena Ali berbunyi A-li, kita menulis:

ᨕ + ᨒᨗ = ᨕᨒᨗ

Ketika nama memiliki bunyi akhir

Sekarang kita masuk ke bagian yang perlu hati-hati.

Dalam tulisan Latin, banyak nama berakhir dengan konsonan, misalnya:

  • Amin
  • Hasan
  • Rahman
  • Arif
  • Daeng

Dalam Lontara tradisional, konsonan akhir sering tidak ditandai secara langsung. Artinya, bentuk Lontara kadang terlihat seperti belum lengkap jika dibandingkan dengan tulisan Latin. Ini bukan karena Lontara “salah”, melainkan karena cara kerja aksaranya memang berbeda. Dalam tradisi tulis, pembaca memakai kosakata, kebiasaan, dan konteks untuk memahami bunyi yang tidak ditulis lengkap (Pelras, 1996).

Contoh sederhana:

Amin terdengar sebagai A-min.
Jika ditulis sangat sederhana dalam Lontara, bentuknya dapat menjadi:

ᨕᨆᨗ

Bentuk itu terbaca a-mi. Bunyi akhir n pada Amin tidak tampak sebagai huruf tersendiri.

Contoh lain:

Hasan terdengar sebagai Ha-san.
Dalam penulisan sederhana:

ᨖᨔ

Bentuk itu terbaca ha-sa. Bunyi akhir n dipahami dari nama dan konteks.

Karena itu, untuk nama yang memiliki konsonan akhir, kita perlu mengingat dua hal:

  1. Bentuk Lontara mungkin lebih pendek daripada tulisan Latinnya.
  2. Ejaan Lontara untuk nama dapat berbeda menurut kebiasaan keluarga, daerah, atau guru.

Jika kamu ingin menulis nama seseorang dengan hormat, terutama nama keluarga, nama adat, atau gelar, sebaiknya tanyakan kepada orang yang lebih tahu di lingkungan setempat.

Nama dengan huruf Latin yang tidak langsung ada dalam Lontara

Tidak semua bunyi dalam nama modern mudah ditulis dengan Lontara tradisional.

Misalnya, dalam nama Indonesia atau nama asing, kita dapat menemukan huruf:

  • f
  • v
  • z
  • sy
  • kh

Lontara dasar yang kita pelajari dalam buku ini tidak mempunyai huruf khusus untuk semua bunyi itu. Maka, dalam praktik belajar pemula, ada beberapa kemungkinan:

  • bunyi itu didekatkan ke bunyi yang paling mirip;
  • nama tetap ditulis dalam Latin;
  • penulis mengikuti kebiasaan lokal atau kesepakatan guru.

Contoh, nama Fira memiliki bunyi f. Karena huruf f tidak termasuk huruf dasar Lontara yang kita pelajari, pemula tidak boleh langsung mengira ada satu jawaban pasti. Ada orang yang mungkin mendekatkannya ke pa, tetapi itu mengubah bunyi. Karena nama adalah identitas, kita perlu berhati-hati.

Sikap yang baik adalah:

Untuk nama yang bunyinya tidak cocok dengan huruf Lontara dasar, tanyakan ejaan yang diinginkan oleh pemilik nama atau guru setempat.

Membaca nama tempat

Nama tempat juga dapat dibaca dengan cara yang sama: pecah menjadi suku kata, lalu baca dari kiri ke kanan.

Mari kita mulai dari nama-nama tempat yang cukup mudah.

Boné

Boné dapat dipecah menjadi:

Bo-né

Dalam Lontara:

  • bo = ᨅᨚ
  • = ᨊᨙ

Jadi:

Boné
ᨅᨚᨊᨙ

Bacalah pelan:

ᨅᨚ → bo
ᨊᨙ → né
ᨅᨚᨊᨙ → bo-né

Wajo

Wajo dapat dipecah menjadi:

Wa-jo

Dalam Lontara:

  • wa =
  • jo = ᨍᨚ

Jadi:

Wajo
ᨓᨍᨚ

Dalam beberapa pembahasan bahasa dan sejarah Bugis, nama tempat dapat memiliki pengucapan dan penulisan yang berhubungan dengan tradisi lokal. Karena itu, bentuk Latin seperti Wajo, Wajoq, atau bentuk lain dalam sumber tertentu perlu dibaca dengan memperhatikan konteksnya. Untuk pemula, bentuk ᨓᨍᨚ cukup baik untuk melatih bunyi wa-jo.

Luwu

Luwu dipecah menjadi:

Lu-wu

Dalam Lontara:

  • lu = ᨒᨘ
  • wu = ᨓᨘ

Jadi:

Luwu
ᨒᨘᨓᨘ

Bacalah:

ᨒᨘ → lu
ᨓᨘ → wu
ᨒᨘᨓᨘ → lu-wu

Tana Ugi

Sekarang kita coba nama budaya yang terdiri atas dua kata:

Tana Ugi

Dalam bahasa Bugis, ungkapan ini dapat dipahami sebagai “tanah Bugis” atau wilayah Bugis dalam pengertian budaya. Orang Bugis dan sejarah kebudayaannya dibahas luas dalam kajian Christian Pelras tentang masyarakat Bugis (Pelras, 1996).

Pecahannya:

Ta-na U-gi

Dalam Lontara:

  • ta =
  • na =
  • u = ᨕᨘ
  • gi = ᨁᨗ

Jadi:

Tana Ugi
ᨈᨊ ᨕᨘᨁᨗ

Perhatikan bahwa ada spasi di antara dua kata:

ᨈᨊ = tana
ᨕᨘᨁᨗ = ugi

Spasi membantu pembaca melihat batas kata. Dalam naskah lama, cara pemisahan kata dan tanda baca dapat berbeda dari buku pelajaran modern, jadi kita memakai spasi agar latihan lebih mudah.

Nama budaya: La Galigo

Salah satu nama penting dalam kebudayaan Bugis adalah La Galigo, yaitu nama yang berkaitan dengan tradisi sastra Bugis yang sangat terkenal. Tradisi La Galigo merupakan bagian penting dalam pembahasan sejarah dan kebudayaan Bugis (Pelras, 1996).

Mari kita baca sebagai latihan Lontara.

La Galigo

Pecahan suku katanya:

La Ga-li-go

Dalam Lontara:

  • la =
  • ga =
  • li = ᨒᨗ
  • go = ᨁᨚ

Jadi:

La Galigo
ᨒ ᨁᨒᨗᨁᨚ

Bacalah perlahan:

→ la
ᨁᨒᨗᨁᨚ → ga-li-go
ᨒ ᨁᨒᨗᨁᨚ → La Galigo

Di sini kita melihat bahwa nama budaya juga dapat menjadi bahan latihan membaca. Saat membaca nama seperti ini, kita tidak hanya belajar huruf, tetapi juga menyentuh jejak cerita dan ingatan budaya.

Mengapa ejaan nama bisa bervariasi?

Dalam bahasa Indonesia modern, kita terbiasa merasa bahwa satu nama harus punya satu ejaan resmi. Misalnya, di kartu pelajar atau kartu identitas, nama ditulis dengan huruf Latin tertentu.

Tetapi dalam Lontara, terutama jika kita menulis nama modern atau nama tempat yang sudah lama memiliki beberapa bentuk, ejaan bisa bervariasi. Ada beberapa sebab.

Pertama, Lontara tidak selalu menandai konsonan akhir. Nama Amin dapat tampak seperti Ami jika ditulis sederhana.

Kedua, Lontara tidak memakai huruf kapital. Jadi perbedaan antara kata biasa dan nama diri lebih banyak dipahami dari konteks.

Ketiga, beberapa bunyi Latin modern tidak mempunyai huruf khusus dalam Lontara dasar. Bunyi f atau z, misalnya, memerlukan keputusan ejaan.

Keempat, pengucapan dapat berbeda menurut daerah. Bahasa Bugis adalah bahasa hidup, dan variasi dalam bahasa hidup adalah hal yang wajar. Kajian tentang masyarakat Bugis menunjukkan bahwa bahasa, identitas, dan tradisi tulis Bugis berkembang dalam ruang budaya yang luas dan bersejarah (Pelras, 1996).

Jadi, jika kamu melihat dua bentuk Lontara untuk nama yang sama, jangan langsung berkata, “Yang satu pasti salah.” Tanyakan dahulu:

  • Apakah pengucapannya sama?
  • Apakah salah satunya mengikuti ejaan lama?
  • Apakah ada bunyi akhir yang tidak ditulis?
  • Apakah itu kebiasaan keluarga atau daerah tertentu?

Belajar aksara juga berarti belajar bersikap teliti dan hormat.

Latihan membaca nama orang

Bacalah nama-nama berikut. Jangan melihat jawabannya terlalu cepat. Tutup bagian jawaban dengan tangan jika perlu.

Latihan 1

Baca:

  1. ᨕᨒᨗ
  2. ᨆᨗᨒ
  3. ᨔᨑᨗ
  4. ᨅᨌᨚ
  5. ᨓᨈᨗ

Sekarang cocokkan:

  1. ᨕᨒᨗ = Ali
  2. ᨆᨗᨒ = Mila
  3. ᨔᨑᨗ = Sari
  4. ᨅᨌᨚ = Baco
  5. ᨓᨈᨗ = Wati

Jika ada yang keliru, ulangi dengan memecah suku katanya.

Contoh:

ᨔᨑᨗ
= sa
ᨑᨗ = ri
Jadi: Sari

Latihan membaca nama tempat

Latihan 2

Baca nama tempat berikut.

  1. ᨅᨚᨊᨙ
  2. ᨓᨍᨚ
  3. ᨒᨘᨓᨘ
  4. ᨈᨊ ᨕᨘᨁᨗ
  5. ᨒ ᨁᨒᨗᨁᨚ

Cocokkan:

  1. ᨅᨚᨊᨙ = Boné
  2. ᨓᨍᨚ = Wajo
  3. ᨒᨘᨓᨘ = Luwu
  4. ᨈᨊ ᨕᨘᨁᨗ = Tana Ugi
  5. ᨒ ᨁᨒᨗᨁᨚ = La Galigo

Ulangi satu kali lagi dengan suara pelan. Membaca keras membantu telinga mengenali bunyi.

Latihan menulis nama

Sekarang tulislah dalam Lontara. Pecah dahulu menjadi suku kata.

Contoh

Lina

Pecah:

Li-na

Tulis:

  • li = ᨒᨗ
  • na =

Jawaban:

ᨒᨗᨊ

Latihan 3

Tulislah dalam Lontara:

  1. Ali
  2. Rima
  3. Baco
  4. Boné
  5. Wajo
  6. Tana Ugi

Jawaban:

  1. Ali = ᨕᨒᨗ
  2. Rima = ᨑᨗᨆ
  3. Baco = ᨅᨌᨚ
  4. Boné = ᨅᨚᨊᨙ
  5. Wajo = ᨓᨍᨚ
  6. Tana Ugi = ᨈᨊ ᨕᨘᨁᨗ

Jika jawabanmu berbeda, periksa lagi tiga hal:

  • Apakah suku katanya sudah benar?
  • Apakah tanda vokalnya sudah tepat?
  • Apakah nama itu memiliki bunyi akhir atau bunyi modern yang sulit ditulis?

Menulis namamu sendiri

Sekarang coba tulis namamu sendiri. Gunakan langkah berikut.

Pertama, ucapkan namamu pelan-pelan.

Misalnya:

Mira → Mi-ra
Budi → Bu-di
Sulaiman → Su-lai-man

Kedua, tulis suku kata yang mudah lebih dahulu.

Contoh:

Mira

  • mi = ᨆᨗ
  • ra =

Maka:

Mira
ᨆᨗᨑ

Ketiga, jika ada bagian yang sulit, jangan memaksa. Tulis catatan:

“Bagian ini perlu ditanyakan kepada guru atau penutur yang tahu ejaan Lontara.”

Misalnya, nama yang memiliki f, z, kh, atau konsonan akhir mungkin memerlukan penyesuaian.

Keempat, jika namamu adalah nama keluarga atau nama adat, tanyakan kepada keluarga. Kadang-kadang keluarga sudah memiliki cara menulis nama itu dalam Lontara. Mengikuti ingatan keluarga adalah bagian dari menghormati tradisi.

Ringkasan bab

Dalam bab ini, kamu telah belajar bahwa membaca nama dalam Lontara dimulai dari bunyi, bukan dari huruf Latin satu per satu.

Kamu sudah mempelajari beberapa gagasan penting:

  • nama diri adalah nama khusus untuk orang, tempat, atau hal tertentu;
  • Lontara tidak memakai huruf kapital seperti alfabet Latin;
  • nama dibaca dengan memecahnya menjadi suku kata;
  • bunyi vokal awal dapat ditulis dengan huruf dan tanda vokal;
  • konsonan akhir dalam nama sering tidak tampak dalam Lontara tradisional;
  • ejaan nama dapat bervariasi menurut pengucapan, kebiasaan lokal, dan keputusan keluarga atau guru;
  • nama tempat dan nama budaya seperti Boné, Wajo, Tana Ugi, dan La Galigo dapat menjadi latihan membaca yang baik.

Pada bab berikutnya, kita akan melangkah dari nama dan kata menuju kalimat sederhana. Kamu akan mulai melihat bagaimana Lontara tidak hanya menuliskan bunyi, tetapi juga membantu kita menyampaikan makna: siapa namamu, dari mana asalmu, dan apa yang sedang kamu lakukan.

References

Pelras, C. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.

The Unicode Consortium. (2022). The Unicode Standard, Version 15.0.0. Mountain View, CA: The Unicode Consortium. https://www.unicode.org/versions/Unicode15.0.0/

τ TheoryTrace