Bab 2: Cara Kerja Aksara Lontara
Pada Bab 1, kita sudah mengenal bahwa Lontara adalah aksara tradisional yang dipakai dalam lingkungan budaya Bugis-Makassar. Sekarang kita mulai masuk ke cara kerjanya. Tujuan bab ini sederhana: setelah selesai membaca, kamu dapat menjawab tiga pertanyaan penting.
Pertama, mengapa satu huruf Lontara biasanya dibaca sebagai satu suku kata?
Kedua, mengapa huruf dasar Lontara biasanya berbunyi dengan vokal /a/?
Ketiga, bagaimana tanda vokal mengubah bunyi huruf dasar itu?
Kita akan belajar pelan-pelan, karena cara kerja Lontara tidak sama persis dengan huruf Latin yang biasa dipakai untuk menulis bahasa Indonesia.
Huruf Latin dan huruf Lontara bekerja dengan cara berbeda
Dalam tulisan Latin, kita menulis kata basa dengan empat huruf:
b a s a
Setiap huruf biasanya mewakili satu bagian bunyi yang lebih kecil. Huruf b mewakili bunyi /b/, huruf a mewakili bunyi /a/, huruf s mewakili bunyi /s/, lalu huruf a lagi mewakili bunyi /a/.
Tetapi dalam Lontara, cara berpikirnya berbeda. Kata basa dapat ditulis:
ᨅᨔ
Tulisan itu terdiri dari dua huruf dasar:
ᨅ dibaca ba
ᨔ dibaca sa
Jadi, dalam contoh ini, satu tanda Lontara tidak hanya berbunyi b atau s, tetapi langsung berbunyi ba atau sa. Inilah salah satu kunci utama membaca Lontara.
Dalam ilmu tentang sistem tulisan, aksara seperti ini sering dibahas sebagai abugida atau alphasyllabary, yaitu sistem tulisan yang huruf dasarnya biasanya membawa vokal bawaan, lalu vokal itu dapat diubah dengan tanda tambahan (Daniels & Bright, 1996). Untuk buku pemula ini, kita boleh menyebutnya secara sederhana sebagai aksara suku kata, asalkan kita ingat bahwa Lontara bukan “suku kata murni” seperti sistem yang memiliki tanda terpisah untuk setiap suku kata. Dalam Lontara, huruf dasar dan tanda vokal bekerja bersama.
Apa itu suku kata?
Sebelum lanjut, kita perlu memahami istilah suku kata.
Suku kata adalah bagian bunyi yang terasa seperti satu ketukan saat kita mengucapkan kata. Misalnya:
ba-sa memiliki dua suku kata: ba dan sa.
u-gi memiliki dua suku kata: u dan gi.
ma-ta memiliki dua suku kata: ma dan ta.
Cobalah ucapkan pelan-pelan:
ba — sa
u — gi
ma — ta
Setiap bagian yang kamu ucapkan dengan satu dorongan suara itulah yang kita sebut suku kata.
Aksara Lontara sangat dekat dengan cara mendengar suku kata seperti ini. Karena itu, ketika melihat huruf Lontara, jangan langsung bertanya, “Ini huruf apa dalam alfabet?” Lebih baik bertanya, “Ini bunyi suku kata apa?”
Huruf dasar biasanya berbunyi dengan vokal /a/
Sekarang perhatikan beberapa huruf Lontara berikut.
| Huruf Lontara | Dibaca |
|---|---|
| ᨀ | ka |
| ᨄ | pa |
| ᨈ | ta |
| ᨆ | ma |
| ᨒ | la |
| ᨔ | sa |
Setiap huruf dasar di atas sudah mengandung bunyi a. Tanda ᨀ bukan dibaca k saja, melainkan ka. Tanda ᨄ bukan dibaca p saja, melainkan pa.
Bunyi a yang muncul secara otomatis ini disebut vokal bawaan. Kata vokal berarti bunyi bahasa yang dapat diucapkan dengan aliran suara yang relatif terbuka, seperti a, i, u, e, o. Kata bawaan berarti sudah ikut bersama huruf dasar, sebelum diberi tanda tambahan.
Jadi, saat kita melihat:
ᨀ
kita membaca:
ka
Bukan:
k
Ini sangat penting. Banyak kesalahan awal dalam membaca Lontara terjadi karena pembaca terbiasa dengan huruf Latin. Dalam huruf Latin, k adalah konsonan tanpa vokal. Dalam Lontara, ᨀ biasanya sudah berbunyi ka.
Tradisi penulisan Lontara Bugis-Makassar memang memakai huruf dasar dengan vokal bawaan dan tanda vokal tambahan untuk mengubah bunyi tersebut; ciri ini tampak dalam pembahasan variasi aksara Bugis-Makassar oleh Noorduyn (1993).
Garis miring /a/ berarti bunyi
Dalam buku ini, kadang kita menulis bunyi dengan tanda garis miring, misalnya /a/. Tanda garis miring dipakai untuk menunjukkan bahwa kita sedang membicarakan bunyi, bukan nama huruf.
Contoh:
a dapat berarti huruf Latin “a”.
/a/ berarti bunyi a yang kita ucapkan.
Jadi, ketika kita berkata bahwa huruf dasar Lontara biasanya memiliki vokal bawaan /a/, maksudnya: huruf itu biasanya terdengar dengan bunyi a saat dibaca.
Contoh:
ᨆ dibaca ma
Di dalam ma, ada bunyi konsonan m dan vokal bawaan /a/.
Tanda vokal mengubah bunyi huruf dasar
Sekarang kita masuk ke bagian yang sangat penting: tanda vokal.
Tanda vokal adalah tanda kecil yang ditambahkan pada huruf dasar untuk mengubah vokal bawaannya. Dalam banyak pembelajaran Lontara, tanda seperti ini juga dikenal sebagai bagian dari anak sureq, yaitu tanda tambahan yang membantu menentukan bunyi bacaan.
Bayangkan huruf dasar ᨀ. Tanpa tanda tambahan, ia dibaca:
ᨀ = ka
Tetapi jika diberi tanda vokal, bunyinya berubah.
| Bentuk | Dibaca |
|---|---|
| ᨀ | ka |
| ᨀᨗ | ki |
| ᨀᨘ | ku |
| ᨀᨙ | ke atau é, sesuai sistem ejaan yang dipakai |
| ᨀᨚ | ko |
| ᨀᨛ | kĕ, yaitu bunyi pepet |
Bunyi pepet adalah bunyi e lemah, seperti bunyi e pada kata Indonesia emas atau senang dalam pelafalan umum. Dalam buku ini, jika perlu membedakan, bunyi pepet dapat ditulis ĕ.
Perhatikan baik-baik: ketika kita membaca ᨀᨗ, kita tidak membacanya sebagai ka-i. Tanda vokal ᨗ mengubah ka menjadi ki. Jadi:
ᨀᨗ = ki
Bukan:
ka-i
Begitu pula:
ᨀᨘ = ku, bukan ka-u
ᨀᨚ = ko, bukan ka-o
Inilah cara kerja utama Lontara: huruf dasar + tanda vokal = suku kata baru.
Satu pola, banyak suku kata
Jika kamu sudah memahami pola pada ᨀ, kamu dapat menerapkannya pada huruf lain. Misalnya huruf ᨆ.
Tanpa tanda vokal:
ᨆ = ma
Dengan tanda vokal:
| Bentuk | Dibaca |
|---|---|
| ᨆ | ma |
| ᨆᨗ | mi |
| ᨆᨘ | mu |
| ᨆᨙ | me atau mé |
| ᨆᨚ | mo |
| ᨆᨛ | mĕ |
Sekarang huruf ᨒ.
| Bentuk | Dibaca |
|---|---|
| ᨒ | la |
| ᨒᨗ | li |
| ᨒᨘ | lu |
| ᨒᨙ | le atau lé |
| ᨒᨚ | lo |
| ᨒᨛ | lĕ |
Kabar baiknya: kamu tidak perlu menghafal setiap bentuk sebagai hal yang benar-benar baru. Kamu hanya perlu mengenali huruf dasarnya, lalu melihat tanda vokalnya.
Misalnya:
ᨒᨗ
Langkah membacanya:
Huruf dasar: ᨒ = la
Tanda vokal: ᨗ mengubah a menjadi i
Hasil: li
Jadi, ᨒᨗ dibaca li.
Lontara dibaca dari kiri ke kanan
Arah membaca Lontara adalah dari kiri ke kanan, seperti tulisan Latin yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Arah kiri-ke-kanan ini merupakan cara umum penulisan dalam aksara Bugis-Makassar yang dibahas dalam kajian naskah dan variasi aksaranya (Noorduyn, 1993).
Perhatikan contoh berikut:
ᨅᨔ
Kita baca dari kiri ke kanan:
ᨅ = ba
ᨔ = sa
Maka:
ᨅᨔ = ba-sa = basa
Sekarang contoh yang sudah muncul di awal buku:
ᨕᨘᨁᨗ
Kita baca dari kiri ke kanan.
Bagian pertama:
ᨕᨘ
Huruf dasar ᨕ dapat dipakai untuk suku kata yang dimulai dengan vokal. Ketika diberi tanda ᨘ, bunyinya menjadi u.
Bagian kedua:
ᨁᨗ
Huruf dasar ᨁ dibaca ga. Ketika diberi tanda ᨗ, bunyinya menjadi gi.
Maka:
ᨕᨘᨁᨗ = u-gi = Ugi
Dalam konteks bahasa Bugis, Ugi berhubungan dengan “Bugis”. Jadi:
ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ = basa Ugi
Artinya:
bahasa Bugis
Jangan membaca tanda vokal sebagai huruf terpisah
Ini bagian yang perlu sering dilatih. Dalam tulisan Latin, jika kita melihat ki, kita melihat dua huruf: k dan i. Tetapi dalam Lontara, ᨀᨗ adalah satu kesatuan bacaan: ki.
Tanda vokal menempel pada huruf dasar secara fungsi, walaupun bentuknya tampak sebagai tanda tambahan. Jadi, cara membacanya bukan:
ᨀ + ᨗ = ka + i
Melainkan:
ᨀ + ᨗ = ki
Begitu juga:
ᨆᨘ = mu
ᨒᨚ = lo
ᨔᨗ = si
ᨈᨘ = tu
Coba baca deretan ini:
ᨀ ᨀᨗ ᨀᨘ ᨀᨚ
Bacaan yang benar:
ka — ki — ku — ko
Sekarang coba ini:
ᨆ ᨆᨗ ᨆᨘ ᨆᨚ
Bacaan:
ma — mi — mu — mo
Jika kamu sudah dapat membaca pola ini, kamu sudah memegang salah satu kunci terbesar aksara Lontara.
Huruf untuk suku kata yang dimulai dengan vokal
Tidak semua suku kata dimulai dengan konsonan. Dalam kata Ugi, suku kata pertama adalah u. Bunyi u tidak dimulai dengan k, p, t, m, atau konsonan lain. Ia langsung dimulai dengan vokal.
Untuk keadaan seperti ini, Lontara memakai huruf dasar ᨕ sebagai dasar vokal.
Contoh:
| Bentuk | Dibaca |
|---|---|
| ᨕ | a |
| ᨕᨗ | i |
| ᨕᨘ | u |
| ᨕᨙ | e atau é |
| ᨕᨚ | o |
| ᨕᨛ | ĕ |
Maka:
ᨕᨘᨁᨗ
dibaca:
u-gi
bukan:
a-u-ga-i
Sekali lagi, tanda vokal mengubah bunyi huruf dasar.
Membaca perlahan: lihat dasar, lihat tanda, ucapkan
Saat kamu mulai membaca Lontara, jangan terburu-buru. Gunakan tiga langkah sederhana.
Pertama, lihat huruf dasarnya.
Misalnya: ᨈ.
Kedua, lihat apakah ada tanda vokal.
Misalnya: ᨈᨘ.
Ketiga, ucapkan hasilnya.
ᨈᨘ = tu
Mari kita coba beberapa contoh.
ᨄᨗ
Huruf dasar: ᨄ = pa
Tanda vokal: ᨗ mengubah a menjadi i
Bacaan: pi
ᨔᨘ
Huruf dasar: ᨔ = sa
Tanda vokal: ᨘ mengubah a menjadi u
Bacaan: su
ᨒᨚ
Huruf dasar: ᨒ = la
Tanda vokal: ᨚ mengubah a menjadi o
Bacaan: lo
Dengan cara ini, bacaan yang semula tampak sulit menjadi lebih teratur.
Lontara tidak selalu menulis semua bunyi seperti huruf Latin
Ada satu hal yang perlu kamu ketahui sejak awal, walaupun kita akan membahasnya lebih lengkap di Bab 11. Dalam tradisi Lontara, tidak semua bunyi akhir atau bunyi rangkap ditulis dengan cara yang sama seperti dalam ejaan Latin modern. Aksara Bugis-Makassar tradisional memiliki kebiasaan penulisan yang membuat pembaca kadang perlu memakai pengetahuan kosakata dan konteks untuk menentukan bacaan yang tepat (Noorduyn, 1993).
Untuk sekarang, jangan khawatir. Pada tahap awal, kita fokus dulu pada hal yang paling dasar:
huruf dasar biasanya berbunyi dengan /a/
tanda vokal mengubah bunyi /a/
bacaan berjalan dari kiri ke kanan
Nanti, setelah kamu lebih kuat membaca suku kata, kita akan belajar mengapa beberapa kata tidak dapat ditebak hanya dari huruf yang terlihat.
Latihan membaca awal
Bacalah pelan-pelan. Jangan menebak terlalu cepat. Lihat huruf dasar, lihat tanda vokal, lalu ucapkan.
| Lontara | Bacaan |
|---|---|
| ᨀ | ka |
| ᨀᨗ | ki |
| ᨀᨘ | ku |
| ᨄ | pa |
| ᨄᨗ | pi |
| ᨄᨘ | pu |
| ᨆ | ma |
| ᨆᨗ | mi |
| ᨆᨘ | mu |
| ᨒ | la |
| ᨒᨗ | li |
| ᨒᨘ | lu |
Sekarang coba baca tanpa melihat jawaban terlebih dahulu:
ᨔ ᨔᨗ ᨔᨘ
Jawaban:
sa — si — su
Coba lagi:
ᨈ ᨈᨗ ᨈᨘ
Jawaban:
ta — ti — tu
Dan satu contoh kata:
ᨅᨔ
Bacaan:
ba-sa
Digabungkan:
basa
Ringkasan bab
Aksara Lontara bekerja dengan cara yang teratur. Huruf dasarnya biasanya sudah berbunyi dengan vokal /a/. Karena itu, ᨀ dibaca ka, ᨄ dibaca pa, dan ᨆ dibaca ma.
Jika huruf dasar diberi tanda vokal, bunyinya berubah. ᨀ adalah ka, tetapi ᨀᨗ menjadi ki, ᨀᨘ menjadi ku, dan ᨀᨚ menjadi ko. Tanda vokal tidak dibaca sebagai huruf terpisah, melainkan sebagai pengubah bunyi huruf dasar.
Lontara dibaca dari kiri ke kanan. Untuk membaca dengan tenang, gunakan urutan ini: lihat huruf dasar, periksa tanda vokal, lalu ucapkan suku katanya.
Pada bab berikutnya, kita akan lebih dekat dengan bunyi dasar bahasa Bugis. Kita akan melatih telinga dan mulut untuk membedakan bunyi seperti ka, pa, ta, ma, la, serta bunyi-bunyi lain yang akan sering muncul saat membaca Lontara.
References
Daniels, Peter T., and William Bright, eds. 1996. The World’s Writing Systems. New York: Oxford University Press.
Noorduyn, J. 1993. “Variation in the Bugis/Makassarese Script.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 149 (3): 533–570.