Bab 13: Sapaan dan Ungkapan Sopan
Bayangkan kamu datang ke rumah keluarga Bugis. Sebelum masuk, kamu tidak langsung berjalan begitu saja. Kamu menyapa, meminta izin, dan berbicara dengan suara yang baik. Dalam banyak budaya, termasuk budaya Bugis-Makassar, cara berkata-kata bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga menunjukkan hormat kepada orang lain. Bahasa dan aksara hidup di dalam kebiasaan seperti ini: menyapa, menjawab, berterima kasih, dan meminta izin.
Pada bab ini, kita akan memakai Lontara untuk membaca beberapa sapaan dan ungkapan sopan yang sederhana. Sapaan adalah kata atau frasa untuk memulai pertemuan, misalnya “halo” atau “apa kabar?”. Ungkapan sopan adalah kata atau frasa yang membantu kita berbicara dengan hormat, misalnya “permisi”, “terima kasih”, atau “maaf”.
Kita tidak akan mempelajari semua aturan kesopanan Bugis sekaligus. Kesopanan dalam bahasa daerah dapat berbeda menurut daerah, usia, hubungan keluarga, dan suasana percakapan. Bahasa Bugis sendiri memiliki sejarah panjang sebagai bahasa masyarakat, sastra, dan naskah di Sulawesi Selatan (Pelras, 1996). Jadi, untuk pemula, sikap terbaik adalah belajar pelan-pelan, meniru penutur yang lebih tahu, dan bertanya dengan hormat jika ragu.
Dalam bab ini, kamu akan berlatih membaca frasa pendek seperti:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
aga karéba
“apa kabar?”
dan:
ᨈᨅᨙ
tabé’
“permisi; mohon izin; dengan hormat”
Perhatikan bahwa beberapa tanda baca seperti tanda tanya, apostrof, atau kapital tidak selalu menjadi bagian dari tulisan Lontara tradisional. Dalam buku ini, tulisan Latin membantu kita memahami bunyi dan maknanya.
Mengapa sapaan penting?
Saat belajar aksara, kita sering mulai dari huruf dan suku kata. Itu penting. Tetapi aksara menjadi lebih hidup ketika dipakai untuk membaca sesuatu yang benar-benar digunakan manusia.
Kata ᨀ saja dibaca ka.
Kata ᨅ saja dibaca ba.
Namun ketika huruf-huruf itu bergabung menjadi frasa seperti:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
aga karéba
kita tidak hanya membaca bunyi. Kita juga membaca maksud: seseorang sedang bertanya kabar.
Inilah perbedaan antara membunyikan tulisan dan memahami bacaan. Membunyikan tulisan berarti mengubah tanda menjadi bunyi. Memahami bacaan berarti menghubungkan bunyi itu dengan arti dan suasana.
Contoh sederhana:
- ᨈᨅᨙ dibaca tabé’.
- Artinya kira-kira “permisi”, “mohon izin”, atau “dengan hormat”.
- Ungkapan ini dapat dipakai ketika lewat di depan orang, memulai bicara, atau meminta perhatian dengan sopan.
Kata tabé’ dikenal luas dalam lingkungan Bugis-Makassar sebagai ungkapan hormat. Bentuk dan pemakaiannya dapat berbeda sedikit menurut daerah dan kebiasaan keluarga. Kamus Bugis lama sudah mencatat banyak kosakata Bugis yang menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki tradisi leksikal dan tulisan yang kuat (Matthes, 1874).
Mengingat kembali cara baca Lontara
Sebelum membaca ungkapan, mari kita mengingat cara kerja Lontara.
Huruf dasar Lontara biasanya membawa vokal /a/. Misalnya:
ᨀ = ka
ᨅ = ba
ᨈ = ta
ᨆ = ma
Jika diberi anak sureq, yaitu tanda vokal, bunyinya berubah.
Contoh:
ᨀ = ka
ᨀᨗ = ki
ᨀᨘ = ku
ᨀᨙ = ké
ᨀᨚ = ko
Dalam ilmu sistem tulisan, Lontara termasuk jenis aksara yang huruf dasarnya membawa vokal bawaan dan dapat diubah dengan tanda vokal; sistem seperti ini sering dibahas dengan istilah abugida atau alphasyllabary (Daniels & Bright, 1996). Untuk latihan kita, cukup ingat kalimat ini:
Satu huruf dasar Lontara biasanya berbunyi seperti satu suku kata dengan vokal a, lalu anak sureq mengubah vokalnya.
Lontara juga mempunyai satu keunikan penting yang sudah kamu kenal di Bab 11: dalam tulisan tradisional, konsonan akhir sering tidak ditulis. Misalnya, kata madécéng berakhir dengan bunyi ng, tetapi tulisan Lontaranya biasanya tidak menandai ng akhir itu secara khusus.
Perhatikan:
ᨆᨉᨙᨌᨙ
dibaca sebagai madécéng, bukan hanya madécé
Mengapa? Karena pembaca memakai pengetahuan kosakata dan konteks. Ciri seperti ini adalah bagian penting dari cara membaca Lontara. Bentuk aksara Buginese/Lontara juga sudah dikodekan dalam Unicode sehingga dapat ditulis di perangkat digital modern, meskipun cara tampilnya bergantung pada font dan sistem yang dipakai (The Unicode Consortium, 2023).
Sapaan pertama: “aga karéba?”
Sekarang kita mulai dengan sapaan yang ramah.
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
aga karéba?
“Apa kabar?”
Mari kita pecah.
ᨕ = a
ᨁ = ga
Jadi:
ᨕᨁ = aga
Lalu:
ᨀ = ka
ᨑᨙ = ré
ᨅ = ba
Jadi:
ᨀᨑᨙᨅ = karéba
Maka seluruh frasa:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
= aga karéba
= “apa kabar?”
Cobalah baca pelan-pelan:
a-ga | ka-ré-ba
Lalu gabungkan:
aga karéba
Dalam percakapan, intonasi bertanya membuatnya terdengar seperti pertanyaan. Dalam tulisan Latin, kita menambahkan tanda tanya:
aga karéba?
Dalam tulisan Lontara latihan, kita boleh menulis:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ?
Namun ingat, tanda tanya adalah bantuan modern untuk pembaca sekarang.
Menjawab kabar: “madécéng”
Jika seseorang bertanya:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
aga karéba?
“Apa kabar?”
Kita dapat menjawab dengan kata:
ᨆᨉᨙᨌᨙ
madécéng
“baik”
Mari kita pecah:
ᨆ = ma
ᨉᨙ = dé
ᨌᨙ = cé
Secara huruf, kita melihat:
ma-dé-cé
Tetapi kata yang dimaksud adalah:
madécéng
Bunyi ng di akhir tidak tampak jelas dalam tulisan Lontara tradisional. Ini contoh yang sangat baik untuk mengingat keunikan Lontara: pembaca perlu tahu kosakata.
Jadi, percakapan singkatnya dapat menjadi:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ?
aga karéba?
“Apa kabar?”
ᨆᨉᨙᨌᨙ.
madécéng.
“Baik.”
Bacalah dialog itu tiga kali. Pertama, baca sangat lambat. Kedua, baca dengan kecepatan sedang. Ketiga, baca seperti sedang benar-benar menyapa teman.
Ungkapan hormat: “tabé’”
Salah satu kata sopan yang sangat penting adalah:
ᨈᨅᨙ
tabé’
“permisi; mohon izin; dengan hormat”
Mari kita baca:
ᨈ = ta
ᨅᨙ = bé
Jadi huruf yang terlihat memberi bunyi:
ta-bé
Dalam tulisan Latin, kita menulis tabé’ dengan tanda apostrof di akhir. Tanda itu membantu menunjukkan adanya hentian kecil di akhir, seperti bunyi tertahan. Dalam Lontara tradisional, hentian akhir seperti ini sering tidak ditulis secara khusus.
Kapan tabé’ dipakai?
Misalnya:
-
Ketika lewat di depan orang yang lebih tua.
Tabé’.
“Permisi.” -
Ketika hendak memulai bicara.
Tabé’, boleh saya bertanya?
Dalam latihan Bugis sederhana, kita cukup mengenali tabé’ sebagai pembuka sopan. -
Ketika meminta izin dengan halus.
Tabé’.
“Mohon izin.”
Dalam budaya belajar, kata ini mengajarkan satu hal penting: membaca Lontara bukan hanya menghafal bentuk huruf, tetapi juga menghargai cara bahasa dipakai dalam kehidupan.
Mengatakan “iya” dengan sopan: “iyé’”
Untuk menjawab “ya”, salah satu bentuk yang sering terdengar adalah:
ᨕᨗᨐᨙ
iyé’
“iya; ya”
Mari kita pecah:
ᨕᨗ = i
ᨐᨙ = yé
Jadi:
ᨕᨗᨐᨙ = i-yé
Dalam tulisan Latin, kita menulis iyé’. Bunyi akhir yang kecil itu lagi-lagi tidak tampak secara khusus dalam Lontara.
Contoh percakapan:
ᨈᨅᨙ.
tabé’.
“Permisi.”
ᨕᨗᨐᨙ.
iyé’.
“Iya.”
Latihan membaca:
ᨕᨗ jangan dibaca a-i terlalu terpisah. Dalam kata ini, gabungkan menjadi bunyi i.
ᨐᨙ dibaca yé.
Maka seluruhnya: iyé’.
Mengatakan “tidak” atau “bukan”: “dé’”
Dalam percakapan sederhana, kamu juga dapat menemukan kata:
ᨉᨙ
dé’
“tidak; bukan”
Hurufnya pendek sekali:
ᨉᨙ = dé
Tetapi dalam tulisan Latin latihan, kita menulis:
dé’
Tanda apostrof menunjukkan hentian akhir yang tidak ditulis dalam Lontara.
Contoh:
ᨕᨗᨐᨙ
iyé’
“iya”
ᨉᨙ
dé’
“tidak”
Pada tahap ini, cukup kenali bentuk dan arti dasarnya. Pemakaian dé’ dalam kalimat Bugis yang lebih lengkap akan membutuhkan pelajaran tata bahasa. Kita belum perlu memaksanya sekarang.
Berterima kasih: “tarima kasi”
Untuk berterima kasih, banyak penutur dalam percakapan sehari-hari juga memakai bentuk yang dekat dengan bahasa Indonesia atau Melayu:
ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ
tarima kasi
“terima kasih”
Mari kita pecah:
ᨈ = ta
ᨑᨗ = ri
ᨆ = ma
Jadi:
ᨈᨑᨗᨆ = tarima
Lalu:
ᨀ = ka
ᨔᨗ = si
Jadi:
ᨀᨔᨗ = kasi
Maka seluruhnya:
ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ
= tarima kasi
Perhatikan: dalam bahasa Indonesia baku kita menulis terima kasih dengan h di akhir kasih. Dalam latihan Lontara ini, kita menulis bunyi sederhana kasi, karena Lontara tradisional tidak biasa menandai semua konsonan akhir seperti tulisan Latin.
Gunakan ungkapan ini dengan senyum dan suara yang baik. Kesopanan bukan hanya kata, tetapi juga cara mengucapkannya.
Meminta izin pergi atau lewat
Sekarang kita gabungkan kata sopan dengan frasa yang sedikit lebih panjang.
Perhatikan kalimat latihan ini:
ᨈᨅᨙ, ᨆᨙᨒᨚᨀ ᨒᨕᨚ.
tabé’, méloka lao.
“Permisi, saya hendak pergi/lewat.”
Mari kita baca pelan-pelan.
Bagian pertama:
ᨈᨅᨙ = tabé’
Bagian kedua:
ᨆᨙ = mé
ᨒᨚ = lo
ᨀ = ka
Jadi:
ᨆᨙᨒᨚᨀ = méloka
Bagian ketiga:
ᨒ = la
ᨕᨚ = o
Jadi:
ᨒᨕᨚ = lao
Gabungkan:
tabé’, méloka lao
Untuk pemula, kita terjemahkan secara sederhana sebagai “Permisi, saya hendak pergi/lewat.” Nanti, ketika kamu belajar tata bahasa Bugis lebih jauh, kamu akan menemukan bahwa kata kerja, partikel, dan penanda orang dalam bahasa Bugis memiliki aturan yang lebih kaya. Untuk sekarang, tujuan kita adalah membaca frasa pendek dan memahami maksud umumnya.
Membaca dialog pendek
Sekarang mari kita baca sebuah dialog kecil. Bayangkan dua orang bertemu di jalan.
A: ᨈᨅᨙ.
A: tabé’.
A: Permisi.
B: ᨕᨗᨐᨙ.
B: iyé’.
B: Iya.
A: ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ?
A: aga karéba?
A: Apa kabar?
B: ᨆᨉᨙᨌᨙ.
B: madécéng.
B: Baik.
A: ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ.
A: tarima kasi.
A: Terima kasih.
Baca lagi hanya bagian Lontaranya:
ᨈᨅᨙ.
ᨕᨗᨐᨙ.
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ?
ᨆᨉᨙᨌᨙ.
ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ.
Sekarang baca dengan bantuan Latin:
tabé’.
iyé’.
aga karéba?
madécéng.
tarima kasi.
Lalu baca dengan arti:
“Permisi.”
“Iya.”
“Apa kabar?”
“Baik.”
“Terima kasih.”
Jika kamu dapat mengikuti dialog ini, berarti kamu sudah mulai membaca Lontara dalam bentuk percakapan.
Strategi membaca frasa sopan
Saat melihat frasa Lontara, jangan panik jika tampak panjang. Gunakan tiga langkah.
Langkah pertama: pisahkan kata.
Contoh:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
Terlihat ada dua bagian:
ᨕᨁ dan ᨀᨑᨙᨅ
Langkah kedua: pecah menjadi suku kata.
ᨕᨁ = a-ga
ᨀᨑᨙᨅ = ka-ré-ba
Langkah ketiga: gabungkan dan cari makna.
a-ga ka-ré-ba
= aga karéba
= “apa kabar?”
Cara yang sama dapat dipakai untuk kata lain.
Contoh:
ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ
Pisahkan:
ᨈᨑᨗᨆ dan ᨀᨔᨗ
Pecah:
ta-ri-ma dan ka-si
Gabungkan:
tarima kasi
Makna:
“terima kasih”
Dengan latihan seperti ini, mata, telinga, dan ingatanmu bekerja bersama.
Latihan 1: Cocokkan Lontara dan Latin
Cobalah cocokkan tulisan Lontara dengan bacaan Latinnya.
- ᨈᨅᨙ
- ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
- ᨆᨉᨙᨌᨙ
- ᨕᨗᨐᨙ
- ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ
Pilihan bacaan:
A. iyé’
B. tarima kasi
C. tabé’
D. madécéng
E. aga karéba
Jawaban:
1 = C
2 = E
3 = D
4 = A
5 = B
Sekarang baca semua pasangan itu dengan suara pelan.
Latihan 2: Baca tanpa bantuan arti
Bacalah tulisan Lontara berikut. Jangan lihat jawaban dulu.
- ᨕᨗᨐᨙ
- ᨉᨙ
- ᨈᨅᨙ
- ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ
- ᨆᨉᨙᨌᨙ
Jawaban:
- iyé’ — iya
- dé’ — tidak/bukan
- tabé’ — permisi
- aga karéba — apa kabar
- madécéng — baik
Perhatikan nomor 5. Tulisan Lontara menunjukkan ma-dé-cé, tetapi kata yang dimaksud dibaca madécéng. Ini latihan penting untuk mengingat bunyi akhir yang tidak selalu ditulis.
Latihan 3: Lengkapi percakapan
Lengkapi percakapan berikut dengan memilih ungkapan yang sesuai.
Pilihan:
- ᨈᨅᨙ — tabé’
- ᨕᨗᨐᨙ — iyé’
- ᨆᨉᨙᨌᨙ — madécéng
- ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ — tarima kasi
Percakapan:
A: Permisi.
A: ____
B: Iya.
B: ____
A: Apa kabar?
A: ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ?
B: Baik.
B: ____
A: Terima kasih.
A: ____
Jawaban:
A: ᨈᨅᨙ — tabé’
B: ᨕᨗᨐᨙ — iyé’
B: ᨆᨉᨙᨌᨙ — madécéng
A: ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ — tarima kasi
Catatan sopan untuk pemula
Saat memakai bahasa daerah, terutama bahasa yang bukan bahasa pertama kita, ada tiga sikap yang baik.
Pertama, jangan takut belajar. Salah baca di awal itu biasa. Bahkan pembaca Lontara pemula perlu waktu untuk mengingat huruf dan anak sureq.
Kedua, jangan merasa paling benar. Ejaan Lontara, pengucapan, dan pilihan kata dapat berbeda menurut daerah dan tradisi keluarga. Dalam naskah lama pun variasi penulisan dapat terjadi, karena sistem tulisan dan kebiasaan penyalinan tidak selalu sama dengan ejaan sekolah modern.
Ketiga, bertanyalah kepada penutur atau guru setempat. Jika kamu ingin memakai sapaan dalam acara adat, surat resmi, papan nama, atau karya yang akan dibaca banyak orang, mintalah orang yang menguasai bahasa Bugis untuk memeriksa. Itu bukan tanda lemah. Itu tanda hormat.
Ringkasan bab
Dalam bab ini, kamu sudah belajar membaca beberapa sapaan dan ungkapan sopan dalam Lontara:
ᨕᨁ ᨀᨑᨙᨅ — aga karéba — apa kabar
ᨆᨉᨙᨌᨙ — madécéng — baik
ᨈᨅᨙ — tabé’ — permisi; mohon izin
ᨕᨗᨐᨙ — iyé’ — iya
ᨉᨙ — dé’ — tidak/bukan
ᨈᨑᨗᨆ ᨀᨔᨗ — tarima kasi — terima kasih
Kamu juga berlatih memecah frasa menjadi suku kata, membaca dari kiri ke kanan, dan mengingat bahwa bunyi akhir seperti ng atau hentian akhir sering tidak tampak dalam Lontara tradisional.
Bab berikutnya akan membawa kita ke nama orang dan nama tempat. Di sana kamu akan melihat bahwa membaca Lontara bukan hanya membaca kata umum, tetapi juga mengenali identitas: nama diri, kampung, kota, dan tempat budaya.
References
Daniels, Peter T., & Bright, William. (Eds.). (1996). The World’s Writing Systems. Oxford University Press.
Matthes, B. F. (1874). Boegineesch-Hollandsch woordenboek, met Hollandsch-Boeginesche woordenlijst. Nederlandsch Bijbelgenootschap.
Pelras, Christian. (1996). The Bugis. Blackwell.
The Unicode Consortium. (2023). The Unicode Standard, Version 15.1. https://www.unicode.org/versions/Unicode15.1.0/