Author @hendri Verifier - Public
Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Download PDF Locked

Bab 1: Mengenal Lontara dan Bahasa Bugis

Ketika kita belajar membaca, sebenarnya kita sedang belajar menghubungkan bentuk dengan bunyi. Bentuk itu terlihat oleh mata. Bunyi itu terdengar oleh telinga. Setelah keduanya bertemu, barulah kita dapat sampai pada makna.

Misalnya, dalam huruf Latin, kamu melihat bentuk ini:

b

Kamu tahu bahwa bentuk itu biasanya dibaca be atau berbunyi /b/ dalam kata seperti batu. Lalu ketika huruf-huruf disusun menjadi basa, kita dapat membacanya sebagai sebuah kata.

Dalam aksara Lontara, hubungan seperti itu juga terjadi. Hanya saja, bentuk hurufnya berbeda. Perhatikan tulisan berikut:

ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ

Tulisan itu dapat dibaca basa Ugi, yaitu “bahasa Bugis”. Sekarang bentuknya mungkin masih terasa asing. Tidak apa-apa. Bab ini belum meminta kamu menghafal semua huruf. Bab ini hanya mengajakmu mengenal: apa itu Lontara, apa hubungannya dengan bahasa Bugis, dan mengapa aksara ini penting dipelajari dengan hormat.

Aksara, bahasa, dan tulisan

Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu membedakan tiga kata penting: bahasa, aksara, dan tulisan.

Bahasa adalah sistem bunyi dan makna yang dipakai manusia untuk berkomunikasi. Bahasa dapat diucapkan, didengar, ditulis, dibaca, dan dipelajari. Bahasa Bugis adalah salah satu bahasa daerah penting di Sulawesi Selatan dan memiliki tradisi sastra serta sejarah yang panjang (Pelras, 1996).

Aksara adalah sistem tanda untuk menuliskan bahasa. Aksara berisi bentuk-bentuk yang mewakili bunyi. Aksara Latin, misalnya, memakai huruf a, b, c, d. Aksara Lontara memakai bentuk seperti ᨀ, ᨅ, ᨆ, ᨔ.

Tulisan adalah hasil penggunaan aksara untuk menulis sesuatu. Jadi, sebuah bahasa dapat ditulis dengan aksara yang berbeda. Bahasa Indonesia biasanya ditulis dengan aksara Latin, tetapi secara teori sebuah kata Indonesia juga dapat dialihkan ke aksara lain. Begitu juga bahasa Bugis: sekarang bahasa Bugis sering ditulis dengan huruf Latin, tetapi secara tradisional bahasa Bugis juga ditulis dengan aksara Lontara.

Perbedaan ini penting. Jangan sampai kita mengira bahwa bahasa Bugis dan aksara Lontara adalah hal yang sama. Bahasa Bugis adalah bahasanya. Lontara adalah salah satu cara menuliskannya.

Contoh sederhana:

Hal yang ditulis Aksara Latin Aksara Lontara
bahasa Bugis basa Ugi ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ

Pada tabel itu, maknanya sama, tetapi bentuk tulisannya berbeda.

Apa itu Lontara?

Lontara adalah aksara tradisional yang dikenal dalam lingkungan budaya Bugis dan Makassar. Para peneliti menunjukkan bahwa aksara Bugis-Makassar memiliki variasi bentuk dalam naskah dan pemakaian lama, sehingga bentuk yang kamu lihat dalam satu buku atau naskah bisa sedikit berbeda dari bentuk di tempat lain (Noorduyn, 1993). Ini wajar, seperti tulisan tangan Latin seseorang bisa berbeda dari tulisan tangan orang lain.

Dalam buku ini, kita memakai bentuk Lontara yang umum dipakai dalam pembelajaran modern dan yang juga sudah tersedia sebagai karakter digital. Aksara Bugis telah memiliki tempat dalam standar Unicode, yaitu standar internasional yang membuat huruf-huruf berbagai aksara dapat ditampilkan di komputer dan telepon genggam (The Unicode Consortium, 2023). Karena itu, huruf seperti , , dan dapat muncul di layar, selama perangkat dan jenis hurufnya mendukung.

Mari lihat beberapa bentuk awal:

Bentuk Lontara Bacaan awal
ka
ba
ma
sa
a

Untuk sementara, cukup perhatikan satu hal: setiap bentuk terlihat seperti satu tanda utuh. Pada bab berikutnya, kita akan belajar bahwa Lontara bekerja sebagai aksara suku kata, yaitu aksara yang satu tanda dasarnya biasanya sudah membawa bunyi suku kata, misalnya dibaca ka, bukan hanya k.

Mengapa sering disebut Bugis-Makassar?

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar istilah Lontara Bugis. Dalam pembelajaran buku ini, fokus kita memang membaca kata dan kalimat Bugis sederhana. Namun, secara budaya dan sejarah, aksara Lontara juga sangat dekat dengan tradisi tulis Makassar. Karena itu, para peneliti sering membicarakan aksara ini dalam hubungan Bugis-Makassar, termasuk ketika membahas variasi bentuk hurufnya (Noorduyn, 1993).

Artinya, kita perlu bersikap hati-hati. Bugis dan Makassar bukan bahasa yang sama, tetapi keduanya berada dalam wilayah budaya Sulawesi Selatan dan sama-sama memiliki hubungan penting dengan tradisi aksara Lontara. Dalam buku ini, jika kita mengatakan “Lontara Bugis”, maksudnya adalah Lontara yang sedang kita pakai untuk membaca contoh-contoh bahasa Bugis tingkat awal.

Bayangkan seperti ini: huruf Latin dipakai untuk menulis bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan banyak bahasa lain. Aksaranya bisa sama, tetapi bahasanya berbeda. Lontara juga dapat dipahami dengan cara yang mirip: aksara ini dapat muncul dalam tradisi lebih dari satu bahasa daerah.

Lontara dalam naskah dan budaya

Kata naskah berarti tulisan yang disimpan sebagai teks, sering kali berupa tulisan tangan. Pada masa lalu, naskah menjadi tempat orang mencatat cerita, asal-usul keluarga, aturan adat, perjanjian, peristiwa, dan pengetahuan yang dianggap penting. Dalam tradisi Bugis, kebiasaan menulis dan menyimpan teks memiliki peran besar dalam sejarah dan kehidupan sosial, termasuk dalam karya sastra, catatan kerajaan, silsilah, serta berbagai teks adat (Pelras, 1996).

Jadi, ketika kita belajar Lontara, kita tidak hanya belajar “huruf lama”. Kita sedang menyentuh pintu menuju ingatan budaya. Di balik tanda atau , ada kebiasaan manusia mencatat, mengingat, mengajar, dan menjaga hubungan dengan masa lalu.

Akan tetapi, kita juga perlu memahami bahwa Lontara bukan hanya milik museum. Hari ini, Lontara masih dapat muncul dalam papan nama, hiasan, bahan ajar, karya seni, logo daerah, kegiatan budaya, dan pembelajaran bahasa. Ketika seseorang menulis namanya dalam Lontara, ia bukan hanya membuat bentuk yang indah, tetapi juga menyambungkan diri dengan tradisi tulis yang lebih tua.

Belajar membaca dengan pelan

Pada awal belajar, bentuk Lontara mungkin tampak mirip satu sama lain. Itu normal. Saat pertama belajar huruf Latin pun, anak-anak sering tertukar antara b, d, p, dan q. Mata perlu waktu untuk mengenali arah, lengkung, dan susunan bentuk.

Perhatikan contoh ini:

Huruf Bacaan
ka
ga
ma
ba

Sekilas, beberapa bentuknya sama-sama melengkung. Tetapi jika dilihat pelan-pelan, setiap huruf memiliki ciri sendiri. Dalam bab-bab berikutnya, kita akan melatih mata untuk mengenali ciri itu.

Cara belajar yang baik adalah:

Pertama, lihat bentuknya.
Kedua, ucapkan bunyinya.
Ketiga, ulangi dalam contoh kata.
Keempat, jangan takut salah, tetapi perbaiki dengan teliti.

Misalnya, lihat kata berikut:

ᨅᨔ

Kita pecah menjadi dua bagian:

= ba
= sa

Jika digabungkan, menjadi:

ba + sa = basa

Kata basa dapat berarti “bahasa” dalam ungkapan seperti basa Ugi. Dengan cara seperti inilah kita akan membaca: bukan langsung menebak seluruh kata, tetapi menyusun bunyi sedikit demi sedikit.

Lontara bukan sekadar hiasan

Kadang-kadang aksara daerah dipakai sebagai ornamen atau hiasan. Itu boleh saja, tetapi sebagai pembelajar, kita ingin melangkah lebih jauh. Kita ingin dapat membaca dengan benar.

Misalnya, jika kamu melihat:

ᨕᨘᨁᨗ

Kita dapat memecahnya seperti ini:

ᨕᨘ = u
ᨁᨗ = gi

Maka:

ᨕᨘᨁᨗ = Ugi

Di sini kamu mulai melihat bahwa tanda kecil di sekitar huruf dapat mengubah bunyi. Pada contoh ᨕᨘ, huruf dasar tidak lagi dibaca a, tetapi menjadi u karena ada tanda vokal. Kita belum perlu menghafal semua tanda itu sekarang. Nanti, Bab 4 akan membahasnya dengan rapi.

Yang penting untuk Bab 1 adalah memahami bahwa Lontara adalah sistem yang teratur. Ia bukan gambar acak. Setiap tanda punya fungsi.

Tujuan belajar dalam buku ini

Buku ini tidak langsung mengajakmu membaca naskah lama yang panjang. Itu tujuan yang lebih besar dan membutuhkan latihan lanjutan. Tujuan awal kita lebih sederhana dan lebih aman:

Kamu akan belajar mengenali huruf-huruf dasar Lontara.
Kamu akan belajar membaca suku kata seperti ka, ba, ma, sa.
Kamu akan belajar mengubah bunyi dengan tanda vokal.
Kamu akan belajar membaca kata Bugis sederhana.
Kamu akan mulai memahami ungkapan pendek dan kalimat dasar.

Dengan bekal itu, kamu dapat melihat tulisan Lontara tidak lagi sebagai bentuk asing, tetapi sebagai tanda yang bisa dibaca.

Coba ucapkan pelan-pelan:

ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
ba-sa U-gi
basa Ugi

Itulah langkah pertama. Kecil, tetapi penting.

Pada bab berikutnya, kita akan masuk ke cara kerja dasar aksara Lontara: mengapa satu huruf seperti dibaca ka, bagaimana arah membacanya, dan bagaimana tanda vokal mengubah bunyi dasar.

References

Noorduyn, J. (1993). Variation in the Bugis/Makasarese script. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 149(3), 533–570.

Pelras, C. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.

The Unicode Consortium. (2023). The Unicode Standard, Version 15.1.0. https://www.unicode.org/versions/Unicode15.1.0/

τ TheoryTrace