Log in to access more pages.
Create an account or log in to continue reading more pages.
Log in
Daftar isi
Ritme Lambat untuk Hidup yang Berkembang
Jalur belajar dewasa untuk membangun kesehatan, perhatian, kerja bermakna, relasi yang dalam, dan flourishing tanpa tunduk pada budaya tergesa-gesa
Baca setiap bagian secara berurutan. Setiap judul dapat dibuka sebagai dokumen TheoryTrace.
- Cover1
- Hak cipta2
- Petunjuk membaca buku ini3
- Pendahuluan4
- Bab 1: Mengapa Hidup Memerlukan Tempo5
- Bab 2: Dari Kesehatan Menuju Flourishing6
- Bab 3: Tubuh sebagai Jam, Batas, dan Guru7
- Bab 4: Stres, Sistem Saraf, dan Beban Allostatic8
- Bab 5: Resiliensi, Regulasi Emosi, dan Pemulihan9
- Bab 6: Apa yang Membuat Kehidupan Berkembang?10
- Bab 7: Slow Living sebagai Praktik, Bukan Gaya Hidup Palsu11
- Bab 8: Slow Movement dan Kritik terhadap Budaya Kecepatan12
- Bab 9: Carl Honoré dan Para Pemikir Tempo Lambat13
- Bab 10: Slow Food: Makanan, Waktu, dan Kehidupan14
- Bab 11: Rumah, Ruang, dan Lingkungan yang Memperlambat15
- Bab 12: Slow Cities: Kota, Ruang Publik, dan Tempo Sosial16
- Bab 13: Slow Tourism: Bepergian untuk Mengenal, Bukan Mengonsumsi17
- Bab 14: Perhatian sebagai Bentuk Kehidupan18
- Bab 15: Deep Work dan Martabat Konsentrasi19
- Bab 16: Satu Hari yang Cukup20
- Bab 17: Ritme, Kebiasaan, dan Arsitektur Hari21
- Bab 18: Nilai, Ambisi, dan Ukuran Keberhasilan22
- Bab 19: Narasi Diri dan Pemulihan Intelektual23
- Bab 20: Relasi yang Tidak Terburu-buru24
- Bab 21: Kerja, Keahlian, dan Kebajikan25
- Bab 22: Konsumsi, Teknologi, dan Kebebasan Memilih26
- Bab 23: Praktik Integrasi: Merancang Hidup Bertempo Manusiawi27
- Bab 24: Flourishing sebagai Jalan Seumur Hidup28
- Penutup29