Version 2 of 2
Pendahuluan
Generated Aksbel book section. · Working · Aug 22, 2026 03:00 · saved by @mujirin
Pendahuluan
Indonesia sering dibaca melalui angka besar: pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, PDB, PDRB, investasi, inflasi, jumlah jalan, panjang jembatan, volume produksi, atau nilai ekspor. Angka-angka itu penting. Tanpa angka, kita mudah terjebak dalam kesan, cerita sepihak, atau klaim yang tidak dapat diperiksa. Namun angka juga memiliki batas. Ia menerangi sebagian kenyataan, sekaligus dapat membuat bagian lain tetap gelap.
Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana tetapi mendasar: apa yang sebenarnya kita maksud ketika mengatakan bahwa sebuah masyarakat “maju”?
Apakah suatu daerah otomatis lebih maju ketika PDRB-nya meningkat, tetapi warganya kehilangan waktu bersama keluarga karena perjalanan kerja makin panjang? Apakah pendapatan yang lebih tinggi selalu berarti hidup yang lebih baik jika udara memburuk, sungai tercemar, relasi sosial melemah, atau warga tidak merasa aman? Sebaliknya, apakah desa atau kota kecil yang pendapatannya belum tinggi selalu harus dibaca sebagai ruang tertinggal, bila di dalamnya hidup jaringan gotong royong, pengetahuan ekologis, solidaritas, dan kemampuan bertahan yang kuat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menolak indikator ekonomi. Buku ini tidak mengajak pembaca membuang PDB, PDRB, pendapatan, atau data statistik. Yang ditawarkan adalah reposisi: menempatkan indikator ekonomi pada tempat yang tepat, lalu melengkapinya dengan cara baca yang lebih utuh tentang kesejahteraan, budaya, rurality, relasi sosial, lingkungan, dan kemampuan masyarakat membentuk masa depannya sendiri.
Mengapa cara membaca perlu direposisi
Dalam studi pembangunan, indikator adalah tanda terukur yang dipakai untuk membantu memahami keadaan yang lebih luas. Misalnya, pendapatan rumah tangga dapat menjadi indikator kemampuan ekonomi; angka harapan hidup dapat menjadi indikator kesehatan penduduk; tingkat partisipasi sekolah dapat menjadi indikator akses pendidikan. Indikator tidak sama dengan kenyataan itu sendiri. Ia adalah pintu masuk untuk membaca kenyataan.
Contohnya, pendapatan per kapita suatu kabupaten dapat naik karena bertambahnya aktivitas industri. Kenaikan itu memberi informasi penting: ada produksi ekonomi yang bertambah. Namun dari angka itu saja kita belum mengetahui siapa yang menikmati kenaikan tersebut, apakah lapangan kerja yang muncul layak, apakah pekerja terlindungi, apakah perempuan memperoleh kesempatan yang sama, apakah lingkungan menanggung biaya tersembunyi, atau apakah warga lokal memiliki suara dalam arah perubahan.
Peringatan semacam ini bukan hal baru. Simon Kuznets, salah satu tokoh penting dalam pengembangan pengukuran pendapatan nasional, telah mengingatkan bahwa kesejahteraan suatu bangsa tidak dapat disimpulkan begitu saja dari ukuran pendapatan nasional tanpa memperhatikan distribusi dan konteksnya (Kuznets, 1934). Beberapa dekade kemudian, Komisi Stiglitz-Sen-Fitoussi juga menegaskan bahwa pengukuran kinerja ekonomi perlu dibedakan dari pengukuran kesejahteraan manusia, dan bahwa kualitas hidup memerlukan ukuran yang lebih luas daripada produksi ekonomi saja (Stiglitz, Sen, & Fitoussi, 2009).
Reposisi yang dimaksud dalam buku ini dimulai dari pembedaan antara pertumbuhan, pembangunan, dan kemajuan.
Pertumbuhan biasanya menunjuk pada peningkatan kuantitatif, terutama dalam ekonomi: produksi naik, pendapatan naik, investasi bertambah, konsumsi meningkat. Pembangunan lebih luas: ia menyangkut proses perubahan sosial, ekonomi, politik, kelembagaan, dan ekologis yang sengaja diarahkan untuk memperbaiki kehidupan. Kemajuan adalah penilaian normatif tentang apakah perubahan itu benar-benar membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermartabat, berdaya, adil, sehat, dan berkelanjutan.
Dengan kata lain, pertumbuhan dapat terjadi tanpa kemajuan yang merata. Pembangunan dapat menghasilkan infrastruktur, tetapi belum tentu menghasilkan rasa aman, kepercayaan sosial, atau kebebasan yang bermakna. Karena itu, membaca kemajuan memerlukan lebih dari satu lensa.
Kesejahteraan sebagai pengalaman hidup yang multidimensi
Kata kesejahteraan dalam buku ini tidak dipakai hanya sebagai sinonim dari pendapatan. Kesejahteraan dipahami sebagai kualitas hidup yang tersusun dari banyak dimensi: kesehatan, pendidikan, rasa aman, relasi sosial, lingkungan yang layak, waktu, kebudayaan, martabat, kemampuan mengambil keputusan, dan harapan terhadap masa depan.
Gagasan ini sejalan dengan perubahan penting dalam studi pembangunan. Laporan Human Development Report 1990 memperkenalkan pendekatan pembangunan manusia yang menilai pembangunan melalui perluasan pilihan manusia, bukan semata-mata melalui pendapatan nasional (UNDP, 1990). Amartya Sen kemudian mengembangkan gagasan pembangunan sebagai perluasan kebebasan substantif: manusia dikatakan berkembang ketika ia memiliki kemampuan nyata untuk menjalani kehidupan yang ia nilai berharga (Sen, 1999). Martha Nussbaum memperluas pembahasan ini melalui daftar kapabilitas manusia, seperti kesehatan tubuh, integritas tubuh, afiliasi sosial, imajinasi, emosi, dan kendali atas lingkungan politik serta material (Nussbaum, 2011).
Istilah penting di sini adalah kapabilitas. Kapabilitas bukan sekadar keterampilan pribadi. Dalam pendekatan Sen dan Nussbaum, kapabilitas berarti peluang nyata yang dimiliki seseorang untuk menjadi dan melakukan sesuatu yang bernilai. Dua orang dapat memiliki pendapatan yang sama, tetapi kapabilitas berbeda. Seseorang yang tinggal dekat sekolah, memiliki transportasi aman, didukung keluarga, dan hidup dalam lingkungan bebas kekerasan memiliki peluang pendidikan yang berbeda dari orang lain dengan pendapatan sama tetapi hidup dalam kondisi sosial yang membatasi.
Contoh sederhana: beasiswa dapat meningkatkan akses pendidikan. Tetapi jika seorang anak perempuan tetap harus menanggung kerja perawatan rumah tangga yang berat, tidak aman pergi ke sekolah, atau menghadapi norma yang merendahkan pendidikan perempuan, maka uang beasiswa saja belum cukup memperluas kapabilitasnya. Kesejahteraan harus dibaca dari hubungan antara sumber daya, norma, institusi, tubuh, waktu, ruang, dan relasi kuasa.
Rurality: bukan halaman belakang pembangunan
Salah satu reposisi utama buku ini adalah cara membaca desa, kampung, dan kota kecil. Dalam banyak wacana pembangunan, wilayah rural sering dipandang melalui daftar kekurangan: kurang modal, kurang akses, kurang teknologi, kurang infrastruktur, kurang produktivitas. Kekurangan itu nyata dan tidak boleh ditutupi. Namun jika hanya dibaca melalui defisit, wilayah rural kehilangan kedalaman sosialnya.
Buku ini memakai istilah rurality untuk menunjuk pada konfigurasi kehidupan yang berkaitan dengan ruang nonmetropolitan: relasi sosial yang lebih dekat, hubungan dengan lahan dan alam, ekonomi keseharian, mobilitas penduduk, identitas lokal, institusi informal, dan cara komunitas mengatur hidup bersama. Dalam kajian geografi rural, rurality tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis, tetapi juga sebagai konstruksi sosial, praktik hidup, dan representasi tentang apa yang dianggap “desa” atau “rural” (Woods, 2011).
Maka, rurality bukan berarti romantisasi desa. Buku ini tidak mengatakan bahwa desa selalu harmonis, selalu adil, atau selalu ekologis. Desa juga dapat menyimpan konflik tanah, ketimpangan gender, patronase politik, kemiskinan, kekerasan, dan eksklusi sosial. Namun rurality mengingatkan kita bahwa komunitas rural juga menyimpan pengetahuan, aset, dan daya adaptasi yang sering tidak terbaca oleh indikator konvensional.
Robert Chambers mengkritik kecenderungan pembangunan yang melihat masyarakat miskin rural dari atas, melalui kategori birokratis dan asumsi orang luar, sehingga pengalaman warga sendiri sering terpinggirkan (Chambers, 1983). Kritik ini penting bagi buku ini. Jika pembangunan ingin lebih jujur, ia perlu belajar mendengar dari dekat: bagaimana warga menilai perubahan, bagaimana mereka mengelola risiko, bagaimana mereka bertahan, dan bagaimana mereka mendefinisikan hidup yang baik.
Contohnya, sebuah kampung mungkin tidak memiliki angka pendapatan tinggi. Tetapi ketika terjadi krisis, jaringan tetangga dapat membantu distribusi makanan, menjaga anak, memperbaiki rumah, atau menghubungkan warga dengan bantuan. Jaringan seperti ini adalah aset sosial. Ia tidak selalu muncul dalam neraca ekonomi, tetapi sangat menentukan daya tahan komunitas.
Budaya sebagai infrastruktur sosial
Buku ini juga mengajak pembaca melihat budaya bukan sebagai hiasan pembangunan. Budaya bukan hanya tari, pakaian adat, festival, atau kuliner. Semua itu penting, tetapi budaya lebih dalam dari ornamen. Budaya adalah sistem makna, nilai, kebiasaan, simbol, narasi, pengetahuan, dan aturan tidak tertulis yang membantu manusia memahami dunia dan bertindak di dalamnya.
Clifford Geertz menggambarkan manusia sebagai makhluk yang hidup dalam “jaring-jaring makna” yang ia tenun sendiri; analisis budaya berarti menafsirkan makna-makna tersebut secara mendalam (Geertz, 1973). Dalam konteks pembangunan, ini berarti keputusan ekonomi, pengelolaan sumber daya, kerja kolektif, cara memimpin, cara bermusyawarah, dan cara menghadapi risiko selalu dipengaruhi oleh makna sosial.
Misalnya, program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada tempat sampah dan jadwal pengangkutan. Ia juga bergantung pada kebiasaan rumah tangga, rasa malu atau bangga, peran tokoh lokal, norma kebersihan, relasi antarwarga, dan kepercayaan terhadap pengelola. Program koperasi tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga kepercayaan, aturan bersama, ingatan tentang pengalaman koperasi sebelumnya, dan kemampuan menyelesaikan konflik.
Dengan menyebut budaya sebagai infrastruktur sosial, buku ini ingin menekankan bahwa budaya bekerja seperti fondasi yang memungkinkan tindakan kolektif terjadi. Infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik penting. Namun infrastruktur sosial seperti kepercayaan, norma timbal balik, kepemimpinan lokal, dan memori kolektif juga menentukan apakah pembangunan dapat bertahan.
Pemikiran sistem: melihat hubungan, bukan hanya bagian
Kemajuan tidak lahir dari satu faktor tunggal. Kesehatan dipengaruhi oleh pendapatan, gizi, air bersih, pendidikan, pekerjaan, lingkungan, gender, layanan publik, dan rasa aman. Pendidikan dipengaruhi oleh kualitas sekolah, dukungan keluarga, transportasi, kesehatan anak, pekerjaan orang tua, biaya tersembunyi, dan norma sosial. Ekonomi lokal dipengaruhi oleh pasar, infrastruktur, keterampilan, lahan, jaringan, teknologi, kebijakan, dan ekologi.
Karena itu, buku ini menggunakan pemikiran sistem. Sistem adalah kumpulan unsur yang saling terhubung sehingga perilaku keseluruhannya tidak dapat dipahami hanya dengan melihat setiap unsur secara terpisah. Dalam pemikiran sistem, kita memperhatikan hubungan, aliran, umpan balik, keterlambatan dampak, dan konsekuensi tak terduga. Donella Meadows menjelaskan bahwa sistem memiliki elemen, keterhubungan, dan tujuan atau fungsi; perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lain melalui pola umpan balik (Meadows, 2008).
Contohnya, peningkatan jalan desa dapat memperlancar akses pasar. Tetapi dampaknya tidak berhenti di ekonomi. Jalan yang lebih baik dapat mengubah harga tanah, pola mobilitas anak muda, akses sekolah, arus barang konsumsi, tekanan terhadap lahan, dan relasi desa-kota. Dampak positif dan negatif dapat muncul bersamaan. Pemikiran sistem membantu kita menghindari kesimpulan terlalu cepat.
Istilah umpan balik berarti proses ketika hasil suatu tindakan kembali memengaruhi penyebab awalnya. Misalnya, ketika warga melihat program kebersihan berhasil, kepercayaan meningkat; karena kepercayaan meningkat, partisipasi bertambah; karena partisipasi bertambah, program makin berhasil. Ini contoh umpan balik yang memperkuat. Sebaliknya, jika program gagal dan warga kecewa, partisipasi menurun; karena partisipasi menurun, program makin sulit berhasil. Maka masalah pembangunan sering bukan hanya kekurangan sumber daya, tetapi pola hubungan yang membuat perubahan sulit bertahan.
Membaca aset, bukan hanya kekurangan
Cara baca pembangunan yang terlalu berpusat pada defisit sering memulai pertanyaan dari “apa yang tidak ada?” atau “apa yang kurang?” Pertanyaan itu perlu, tetapi tidak cukup. Buku ini juga mengajak pembaca bertanya: apa yang sudah bekerja di komunitas ini? Siapa yang dipercaya? Pengetahuan apa yang hidup? Jaringan apa yang dapat diperkuat? Praktik apa yang telah terbukti membantu warga bertahan?
Pendekatan ini dekat dengan asset-based community development, yaitu pendekatan pengembangan komunitas yang memulai dari aset, kapasitas, dan jaringan yang telah dimiliki warga, bukan hanya dari kebutuhan dan masalah mereka. Kretzmann dan McKnight menekankan bahwa komunitas dapat dibangun “dari dalam ke luar” dengan mengenali dan menggerakkan aset warga, asosiasi lokal, institusi, ruang fisik, ekonomi lokal, dan jejaring sosial (Kretzmann & McKnight, 1993).
Contohnya, dalam sebuah komunitas, aset bukan hanya dana. Aset dapat berupa ibu-ibu yang terampil mengorganisasi dapur umum, pemuda yang mampu membuat peta digital, petani yang memahami pola air, guru mengaji yang dipercaya anak-anak, bengkel kecil yang menjadi pusat informasi, kelompok olahraga yang memperkuat jejaring, atau tradisi musyawarah yang masih dihormati. Bila semua itu dibaca sebagai aset pembangunan, rancangan program menjadi lebih realistis dan lebih berakar.
Etnografi dan komunitas sebagai laboratorium hidup
Buku ini juga memberi tempat penting bagi evidensi etnografis. Etnografi adalah pendekatan penelitian yang berusaha memahami kehidupan sosial dari dekat melalui observasi, wawancara mendalam, partisipasi, catatan lapangan, dan penafsiran makna. Etnografi tidak hanya bertanya “berapa banyak?”, tetapi juga “bagaimana?”, “mengapa?”, “dalam situasi apa?”, dan “apa maknanya bagi warga?”
Dalam etnografi, komunitas tidak diperlakukan sebagai objek pasif. Komunitas adalah ruang hidup tempat teori diuji oleh kenyataan. Sebuah konsep yang tampak rapi di ruang seminar dapat menjadi lebih kaya, lebih rumit, atau bahkan perlu dikoreksi ketika bertemu praktik warga. Karena itu, pengalaman lapangan—termasuk dari komunitas seperti Cibiruwetan—penting dalam buku ini bukan sebagai ilustrasi tambahan, melainkan sebagai tempat teori dan praktik saling menguji.
Etnografi juga mengajarkan kerendahan hati. Peneliti, perencana, pendamping, atau pembuat kebijakan tidak selalu paling tahu apa yang penting bagi warga. Mereka perlu mendengar, mengamati, memeriksa asumsi, dan menyadari posisi mereka sendiri. Inilah yang dalam penelitian sosial sering disebut refleksivitas: kesadaran bahwa cara kita melihat, bertanya, mencatat, dan menafsirkan dipengaruhi oleh latar belakang, kepentingan, bahasa, dan posisi sosial kita.
Arah perjalanan buku ini
Buku ini disusun sebagai perjalanan bertahap. Bagian awal membantu pembaca memahami mengapa indikator konvensional lahir, apa kegunaannya, dan mengapa ia tidak cukup untuk membaca kualitas kehidupan. Setelah itu, pembahasan bergerak menuju kesejahteraan multidimensi, pendekatan kapabilitas, rurality, aset komunitas, budaya, memori kolektif, dan pemikiran sistem.
Pada bagian tengah, pembaca diajak mempelajari ekonomi keseharian, kesehatan, pendidikan, relasi sosial, lingkungan, dan pengetahuan ekologis sebagai bagian dari ekosistem kehidupan komunitas. Bagian berikutnya memperkenalkan etnografi, cara mengolah temuan lapangan menjadi kerangka analitis, dan contoh komunitas sebagai laboratorium hidup. Menjelang akhir, buku ini membahas perancangan indikator kemajuan yang lebih utuh, indikator partisipatif, risiko bias dan romantisasi, penerjemahan kerangka ke kebijakan, serta narasi publik untuk merayakan Indonesia tanpa mereduksi manusia menjadi angka.
Kata merayakan dalam judul buku ini perlu dipahami dengan hati-hati. Merayakan Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, kekerasan, korupsi, atau kegagalan layanan publik. Merayakan berarti membaca Indonesia dengan lebih adil: melihat masalah secara jujur, tetapi juga mengenali kekuatan, pengetahuan, relasi, daya cipta, dan daya tahan yang telah hidup dalam masyarakat.
Buku ini mengajak pembaca berpindah dari pertanyaan tunggal, “berapa besar pertumbuhannya?”, menuju pertanyaan yang lebih lengkap: siapa yang hidupnya membaik, dalam hal apa, dengan biaya apa, melalui relasi seperti apa, ditopang oleh nilai apa, dan apakah perubahan itu memperluas kemampuan masyarakat untuk membentuk masa depannya sendiri?
Di titik itulah reposisi membaca kemajuan dimulai.
References
Chambers, R. (1983). Rural Development: Putting the Last First. London: Longman.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Kretzmann, J. P., & McKnight, J. L. (1993). Building Communities from the Inside Out: A Path Toward Finding and Mobilizing a Community’s Assets. Evanston, IL: Institute for Policy Research, Northwestern University.
Kuznets, S. (1934). National Income, 1929–1932. 73rd Congress, 2nd Session, Senate Document No. 124. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
Meadows, D. H. (2008). Thinking in Systems: A Primer. White River Junction, VT: Chelsea Green Publishing.
Nussbaum, M. C. (2011). Creating Capabilities: The Human Development Approach. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Sen, A. (1999). Development as Freedom. New York: Alfred A. Knopf.
Stiglitz, J. E., Sen, A., & Fitoussi, J.-P. (2009). Report by the Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress. Paris: Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress.
United Nations Development Programme. (1990). Human Development Report 1990. New York: Oxford University Press.
Woods, M. (2011). Rural. Abingdon: Routledge.