Back to 4
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled

“Belajar” sebagai Jembatan Menuju “Sinau” Hanacaraka

Dalam kalimat pembuka dokumen induk, kata yang disorot adalah “belajar”:

“Kawulo ingkang badhe belajar maca hanacaraka—Anda yang datang dengan niat belajar membaca Aksara Jawa—…”

Secara makna, kata belajar di sini menunjuk pada kegiatan memasuki pengetahuan baru secara bertahap: mengenali, mencoba, salah, memperbaiki, lalu makin memahami. Dalam bahasa Jawa, padanan yang diberikan oleh pengguna adalah sinau. Maka, jika bagian itu dibuat lebih Jawa, frasanya dapat dibaca sebagai:

Kawulo ingkang badhe sinau maca hanacaraka
“Saya/kami yang hendak belajar membaca hanacaraka.”

Padanan belajar = sinau ini masuk akal secara umum. Dalam kamus Jawa-Inggris, sinau berarti “to study, learn” atau belajar/mempelajari [Horne 1974]. Dalam bahasa Indonesia, belajar juga berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, sebagaimana dipakai dalam pengertian umum pendidikan dan latihan [KBBI Daring]. Jadi, pada tingkat makna dasar, hubungan yang dimaksud oleh prompt pengguna cukup kuat: belajar dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan ke bahasa Jawa sebagai sinau.

Namun, kalimat pembuka itu menarik karena bukan kalimat Jawa “murni” dalam satu tingkat tutur. Ia mencampurkan beberapa unsur: kawulo/kawula, ingkang, dan badhe bernuansa Jawa krama atau hormat; belajar berasal dari bahasa Indonesia; sedangkan maca adalah bentuk Jawa yang lazim berarti “membaca”, sering dipakai dalam ragam ngoko. Campuran seperti ini tidak membuat maksud kalimat hilang. Justru dalam buku pengantar untuk pembelajar, campuran itu dapat berfungsi sebagai jembatan: pembaca Indonesia yang belum terbiasa dengan bahasa Jawa tetap dapat menangkap arah kalimat, sementara suasana Jawa sudah mulai terasa.

Dari “belajar” ke “sinau”

Kata belajar dalam konteks ini tidak sekadar berarti “menghafal”. Dokumen induk segera menegaskan hal itu: “Buku ini disusun untuk membantu Anda membaca, bukan hanya menghafal.” Jadi, belajar maca hanacaraka berarti masuk ke sistem baca Aksara Jawa dengan memahami hubungan antara bentuk, bunyi, dan aturan gabungannya. Pembaca tidak hanya diminta mengingat bahwa bernama ma atau bernama ca, tetapi juga memahami mengapa ꦩꦕ dibaca maca.

Jika diterjemahkan menjadi Jawa, sinau membawa nuansa yang cocok: seseorang sedang menjalani proses memperoleh kemampuan. Sinau maca berarti belajar membaca. Dalam konteks buku ini, objeknya adalah hanacaraka, yaitu sebutan populer untuk Aksara Jawa yang diambil dari urutan awal aksara dasar: ha-na-ca-ra-ka. Maka sinau maca hanacaraka berarti belajar membaca Aksara Jawa, bukan sekadar belajar menyebut nama aksara satu per satu.

Ada perbedaan kecil yang perlu diperhatikan. Dalam bahasa Indonesia, belajar membaca terdengar sangat biasa dan netral. Dalam bahasa Jawa, pilihan kata dapat bergantung pada tingkat tutur. Maca berarti membaca; dalam ragam krama, bentuk yang lebih halus adalah maos. Karena itu, jika seluruh frasa hendak dibuat lebih selaras dengan unsur krama seperti ingkang dan badhe, kemungkinan bentuknya menjadi:

Kawula ingkang badhe sinau maos hanacaraka

Akan tetapi, ini bukan berarti bentuk sinau maca salah untuk tujuan pembelajaran. Untuk buku pengantar yang berbicara kepada pemula, sinau maca terasa langsung dan mudah dipahami. Yang perlu dicatat hanyalah bahwa Javanese memiliki sistem tingkat tutur, sehingga pilihan kata seperti maca/maos, arep/badhe, atau bentuk sapaan lain dapat berubah menurut kesopanan, relasi sosial, dan situasi [Poedjosoedarmo 1968; Errington 1988].

Mengapa kata ini penting dalam pendahuluan

Kata belajar menjadi pintu masuk ke sikap utama buku. Dokumen induk tidak memperlakukan Aksara Jawa sebagai kumpulan gambar asing yang harus ditebak. Sebaliknya, ia mengajak pembaca melihat hanacaraka sebagai sistem. Ini penting karena Aksara Jawa bekerja berbeda dari huruf Latin.

Dalam huruf Latin, kata maca ditulis sebagai empat huruf: m-a-c-a. Pembaca melihat setiap huruf sebagai unit yang relatif berdiri sendiri. Dalam Aksara Jawa, ꦩꦕ dibaca ma-ca, karena satu aksara dasar biasanya sudah mengandung konsonan dan vokal bawaan. Inilah sebabnya dokumen induk memperkenalkan istilah abugida atau alphasyllabary, yaitu sistem tulisan yang unit dasarnya sering berupa konsonan dengan vokal bawaan [Daniels and Bright 1996].

Maka, “belajar” di sini berarti melatih dua hal sekaligus. Pertama, mata belajar membedakan bentuk: mana , mana , mana , mana . Kedua, pikiran belajar aturan: kapan suatu aksara dibaca dengan vokal bawaan, kapan bunyinya diubah oleh sandhangan, dan kapan vokal bawaan dimatikan oleh pasangan atau tanda tertentu. Dengan kata lain, belajar/sinau dalam buku ini adalah proses membangun kebiasaan baca, bukan sekadar menambah daftar hafalan.

Campuran bahasa sebagai strategi pembuka

Kalimat “Kawulo ingkang badhe belajar maca hanacaraka” dapat dibaca sebagai campuran Jawa dan Indonesia. Dari sisi kebahasaan formal, seseorang mungkin bertanya: mengapa tidak memakai sinau sejak awal? Pertanyaan itu wajar, terutama karena prompt pengguna menunjukkan padanan “belajar (Ind) = sinau (Jw).”

Ada dua kemungkinan penafsiran yang hati-hati. Pertama, penulis mungkin sengaja memakai belajar agar pembaca Indonesia segera memahami maksudnya sebelum masuk lebih jauh ke istilah Jawa. Kedua, kalimat itu mungkin masih berupa campuran yang dapat diperhalus jika tujuan naskah adalah konsistensi ragam bahasa. Kedua tafsir ini tidak bertentangan dengan isi dokumen induk. Dokumen itu sendiri memang dominan berbahasa Indonesia, dengan sisipan istilah dan contoh Jawa. Jadi, penggunaan belajar sesuai dengan bahasa utama buku: pembaca diajak masuk ke hanacaraka melalui penjelasan Indonesia yang ramah.

Jika tujuan revisi adalah memberi rasa Jawa yang lebih kuat, mengganti belajar menjadi sinau adalah pilihan yang wajar:

Kawulo ingkang badhe sinau maca hanacaraka—Anda yang datang dengan niat belajar membaca Aksara Jawa—…

Bentuk ini mempertahankan terjemahan Indonesia setelah tanda pisah, sehingga pembaca tetap terbantu. Namun, bila ingin menyelaraskan tingkat tutur secara lebih halus, perlu mempertimbangkan juga kata maca. Karena badhe dan ingkang bernuansa krama, bentuk yang lebih konsisten dapat memakai maos:

Kawula ingkang badhe sinau maos hanacaraka—Anda yang datang dengan niat belajar membaca Aksara Jawa—…

Walaupun demikian, pilihan ini membawa nuansa lebih formal. Untuk buku pemula, bentuk yang sedikit campuran kadang lebih bersahabat daripada bentuk yang sepenuhnya halus tetapi terasa jauh.

Kesimpulan kecil

Kata belajar dalam bagian pembuka berfungsi sebagai kata kunci sikap: pembaca datang bukan untuk langsung mahir, melainkan untuk sinau, belajar pelan-pelan. Padanan sinau tepat untuk makna dasar “belajar”, tetapi penggunaannya dalam kalimat Jawa perlu memperhatikan lingkungan katanya. Jika hanya mengganti kata Indonesia dengan padanan Jawa, badhe sinau maca hanacaraka sudah dapat dipahami. Jika ingin tingkat tutur lebih selaras dengan gaya krama, badhe sinau maos hanacaraka patut dipertimbangkan.

Yang paling penting, kata ini mendukung pesan utama pendahuluan: membaca Aksara Jawa adalah perjalanan bertahap. Pembaca belajar melihat bentuk, menghubungkannya dengan bunyi, memahami aturan, lalu membaca dengan semakin lancar.

References

Daniels, Peter T., dan William Bright, eds. 1996. The World’s Writing Systems. New York: Oxford University Press.

Errington, Joseph J. 1988. Structure and Style in Javanese: A Semiotic View of Linguistic Etiquette. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Horne, Elinor Clark. 1974. Javanese-English Dictionary. New Haven: Yale University Press.

KBBI Daring. “belajar.” Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Poedjosoedarmo, Soepomo. 1968. “Javanese Speech Levels.” Indonesia 6: 54–81.

τ TheoryTrace