InfoCreate an account or log in to access more pages.
Back to 4
Author @mujirin Verifier - Public Shared TheoryTrace Brain enabled

Efikasi Diri: Keyakinan “Aku Bisa Mencoba Cara yang Diperlukan”

Istilah efikasi diri (self-efficacy) terdengar akademis, tetapi gagasannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam bagian yang disorot, dokumen induk memperkenalkan efikasi diri sebagai keyakinan seseorang tentang kemampuannya mengatur dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Ini sejalan dengan pemikiran Albert Bandura, yang menjelaskan bahwa efikasi diri bukan sekadar “merasa percaya diri”, melainkan keyakinan yang lebih spesifik: apakah aku percaya bahwa aku mampu melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan dalam situasi ini? [Bandura 1997].

Agar lebih mudah, bayangkan seseorang berdiri di depan pintu yang terkunci. Tujuannya adalah masuk ke ruangan. Efikasi diri bukan keyakinan bahwa pintu pasti akan terbuka dengan sendirinya. Efikasi diri adalah keyakinan, “Aku bisa mencoba mencari kunci, bertanya kepada orang yang tahu, memeriksa pintu lain, atau belajar cara membuka masalah ini dengan benar.” Jadi, efikasi diri tidak sama dengan jaminan keberhasilan. Ia lebih mirip keyakinan bahwa diri kita punya kapasitas untuk berusaha, belajar, menyesuaikan strategi, dan bertahan cukup lama menghadapi hambatan.

Analogi Sederhana: Belajar Mengendarai Sepeda

Analogi yang paling sederhana adalah belajar naik sepeda.

Anak yang baru belajar naik sepeda biasanya belum langsung lancar. Ia mungkin jatuh, oleng, takut, atau merasa malu dilihat orang. Dua anak bisa memiliki kemampuan awal yang mirip, tetapi keyakinan mereka berbeda.

Anak pertama berpikir, “Aku memang belum bisa, tapi kalau aku latihan pelan-pelan, pegang keseimbangan, dan mencoba lagi, lama-lama aku mungkin bisa.” Anak ini memiliki efikasi diri yang cukup baik. Ia tidak sedang berkata, “Aku pasti langsung hebat.” Ia hanya percaya bahwa ada tindakan yang bisa ia lakukan: berlatih, memperbaiki posisi tubuh, mencoba lagi setelah jatuh, dan meminta bantuan.

Anak kedua berpikir, “Aku jatuh sekali, berarti aku memang tidak bisa naik sepeda.” Anak ini mungkin berhenti lebih cepat, bukan semata-mata karena tubuhnya tidak mampu, tetapi karena keyakinannya tentang kemampuan dirinya terlalu cepat menutup kemungkinan belajar.

Di sinilah inti efikasi diri terlihat. Keyakinan “aku bisa belajar dan mencoba langkah yang diperlukan” memengaruhi pilihan tindakan, jumlah usaha, ketekunan, dan cara seseorang menafsirkan kegagalan. Bandura menekankan bahwa efikasi diri memengaruhi bagaimana orang berpikir, merasa, memotivasi diri, dan bertindak [Bandura 1997]. Dalam bahasa sederhana: keyakinan tentang kemampuan diri ikut menentukan apakah seseorang akan mencoba, menyerah, atau mencari cara baru.

Bukan Sombong, Bukan Berpura-pura Kuat

Penting untuk membedakan efikasi diri dari kesombongan atau berpikir positif palsu. Efikasi diri yang sehat tidak berkata, “Aku pasti bisa semua hal.” Itu tidak realistis. Seseorang bisa memiliki efikasi diri tinggi dalam satu bidang, tetapi rendah dalam bidang lain.

Misalnya, seseorang mungkin yakin mampu memasak makanan sederhana karena sudah sering mencoba. Tetapi orang yang sama bisa merasa tidak yakin ketika harus berbicara di depan banyak orang. Ini wajar, karena efikasi diri bersifat cukup spesifik pada tugas atau situasi. Keyakinan “aku bisa menyelesaikan soal matematika dasar” berbeda dari keyakinan “aku bisa memimpin rapat”, “aku bisa menyampaikan pendapat”, atau “aku bisa memperbaiki hubungan yang sedang tegang”.

Karena itu, efikasi diri lebih tepat dipahami sebagai kalimat seperti ini:

“Untuk tujuan ini, dalam situasi ini, apakah aku percaya bahwa aku bisa melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan?”

Kalimat itu lebih rendah hati dan lebih akurat daripada “aku hebat dalam segala hal.” Efikasi diri juga tidak berarti seseorang tidak takut. Seperti contoh dalam dokumen induk, orang yang akan berbicara di depan kelas bisa tetap gugup. Namun jika ia memiliki efikasi diri yang cukup, ia mungkin tetap menyiapkan materi, berlatih, dan maju berbicara. Rasa takut masih ada, tetapi tidak menjadi satu-satunya pengendali tindakan.

Mengapa Keyakinan Ini Berpengaruh?

Efikasi diri berpengaruh karena manusia jarang bertindak hanya berdasarkan kemampuan objektif. Kita juga bertindak berdasarkan tafsiran kita tentang kemampuan itu. Dua orang bisa memiliki kemampuan yang hampir sama, tetapi jika yang satu percaya “aku bisa belajar dari kesalahan” dan yang lain percaya “kesalahan membuktikan aku bodoh”, tindakan mereka akan berbeda.

Misalnya, dua siswa gagal dalam ujian. Kegagalannya sama, tetapi maknanya bisa berbeda.

Siswa dengan efikasi diri yang lebih kuat mungkin berpikir, “Cara belajarku kurang tepat. Aku perlu latihan soal lebih banyak, bertanya pada guru, atau membuat jadwal belajar.” Ia melihat kegagalan sebagai informasi.

Siswa dengan efikasi diri yang sangat lemah mungkin berpikir, “Aku memang tidak mampu. Percuma belajar.” Ia melihat kegagalan sebagai vonis tentang dirinya.

Perbedaan ini penting. Dalam psikologi kognitif dan terapi kognitif, cara seseorang menafsirkan peristiwa dapat memengaruhi emosi dan perilaku berikutnya [Beck et al. 1979]. Jika kegagalan ditafsirkan sebagai tanda bahwa diri tidak punya harapan, orang cenderung malu, takut mencoba lagi, atau menghindar. Jika kegagalan ditafsirkan sebagai umpan balik, orang lebih mungkin memperbaiki strategi.

Namun kita tetap perlu berhati-hati: efikasi diri bukan satu-satunya faktor keberhasilan. Lingkungan, kesempatan, dukungan sosial, kondisi ekonomi, kesehatan mental, kualitas pengajaran, dan hambatan nyata juga berpengaruh. Efikasi diri dapat membantu seseorang bertindak lebih adaptif, tetapi tidak boleh dipakai untuk menyalahkan orang yang sedang kesulitan. Tidak semua kegagalan terjadi karena “kurang percaya diri”.

Analogi Lain: Baterai Senter

Analogi lain yang sederhana adalah baterai senter.

Bayangkan seseorang berjalan di tempat gelap sambil membawa senter. Senter itu tidak menghilangkan semua rintangan. Batu, lubang, dan jalan menanjak tetap ada. Tetapi senter membantu orang melihat langkah berikutnya.

Efikasi diri mirip baterai yang membuat senter itu menyala. Jika baterainya cukup, seseorang bisa berpikir, “Aku belum melihat seluruh jalan, tapi aku bisa melihat satu-dua langkah di depan.” Ia tidak harus yakin bahwa perjalanan akan mudah. Ia hanya perlu cukup yakin untuk mengambil langkah berikutnya dengan hati-hati.

Jika baterainya sangat lemah, jalan yang sebenarnya masih bisa dilalui akan terasa mustahil. Orang mungkin berhenti bukan karena benar-benar tidak ada jalan, tetapi karena ia tidak melihat kemungkinan langkah kecil yang bisa diambil.

Analogi ini cocok dengan nada dokumen induk yang menekankan pertumbuhan pelan-pelan. Efikasi diri tidak harus besar sejak awal. Kadang ia tumbuh dari pengalaman kecil: mencoba satu langkah, berhasil sedikit, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba lagi.

Dari Mana Efikasi Diri Tumbuh?

Bandura menjelaskan beberapa sumber utama efikasi diri. Salah satu yang paling kuat adalah pengalaman berhasil melakukan sesuatu, terutama setelah usaha yang nyata [Bandura 1997]. Misalnya, seseorang yang dulu takut berbicara di depan kelas lalu berhasil menyampaikan presentasi singkat mungkin mulai berpikir, “Ternyata aku bisa jika menyiapkan diri.”

Sumber lain adalah melihat orang lain yang mirip dengan kita berhasil. Jika seseorang melihat temannya yang dulu pemalu mulai berani berbicara setelah latihan, ia bisa berpikir, “Mungkin aku juga bisa belajar.” Ini bukan sekadar membandingkan diri, tetapi belajar dari contoh.

Dukungan verbal juga bisa membantu, terutama jika realistis. Kalimat seperti “Kamu pasti bisa semuanya” mungkin terdengar menyenangkan, tetapi terlalu umum. Kalimat yang lebih membantu adalah, “Kamu sudah latihan. Coba mulai dari bagian pembuka dulu. Kalau gugup, tarik napas dan lanjutkan pelan-pelan.” Dukungan seperti ini menghubungkan keyakinan dengan tindakan konkret.

Keadaan tubuh dan emosi juga memengaruhi efikasi diri. Jantung berdebar bisa ditafsirkan sebagai “aku akan gagal”, tetapi bisa juga ditafsirkan sebagai “tubuhku sedang tegang karena ini penting.” Tafsir kedua biasanya lebih membantu karena tidak langsung mengubah rasa gugup menjadi bukti ketidakmampuan.

Hubungannya dengan Percaya Diri yang Tenang

Dalam dokumen induk, efikasi diri ditempatkan dalam pembahasan tentang percaya diri yang sehat. Ini tepat, tetapi ada batas yang perlu dijaga. Percaya diri dalam buku ini tampaknya dipakai sebagai istilah yang lebih luas: cara seseorang menghadapi hidup dengan penilaian yang cukup realistis terhadap diri, kemampuan, dan kesempatan. Efikasi diri adalah salah satu bagiannya, khususnya bagian yang berkaitan dengan keyakinan terhadap kemampuan melakukan tindakan tertentu.

Jadi, seseorang bisa memiliki efikasi diri dalam belajar tetapi masih bergumul dengan harga diri. Ia mungkin berpikir, “Aku bisa menyelesaikan tugas,” tetapi tetap merasa, “Kalau aku gagal, aku tidak berharga.” Di sinilah dokumen induk kemudian membedakan efikasi diri dari harga diri, penerimaan diri, dan self-love. Pembedaan ini penting: kemampuan melakukan sesuatu tidak sama dengan nilai diri sebagai manusia.

Efikasi diri yang sehat sebaiknya berjalan bersama penerimaan diri. Kalimatnya bukan, “Aku harus berhasil agar aku layak.” Kalimat yang lebih sehat adalah, “Aku tetap berharga sebagai manusia, dan aku bisa belajar melakukan langkah yang lebih baik.”

Penjelasan Singkatnya

Jika diringkas dengan analogi sederhana: efikasi diri adalah seperti keyakinan seorang pemula yang belajar naik sepeda bahwa jatuh bukan akhir, melainkan bagian dari latihan. Ia belum tentu langsung berhasil, tetapi ia percaya ada hal yang bisa dilakukan: mencoba lagi, memperbaiki keseimbangan, meminta bantuan, dan berlatih bertahap.

Keyakinan seperti ini tidak membuat hidup otomatis mudah. Tetapi ia dapat membuat seseorang lebih mungkin memilih tindakan, memberi usaha, bertahan ketika sulit, dan melihat kegagalan sebagai informasi, bukan sebagai hukuman terhadap nilai dirinya.

References

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W.H. Freeman.

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191

Beck, A. T., Rush, A. J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1979). Cognitive Therapy of Depression. Guilford Press.

τ TheoryTrace