Version 2 of 2

self-efficacy

AI explanation generated from highlighted passage. · Working · Oct 25, 2026 00:34 · saved by @mujirin

Memahami Self-Efficacy: Keyakinan yang Tumbuh dari Tindakan

Dalam bagian yang disorot, istilah self-efficacy muncul untuk menjelaskan “keyakinan tentang kemampuan diri”. Dalam bahasa yang sederhana, self-efficacy berarti keyakinan seseorang bahwa ia mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi tugas atau situasi tertentu. Jadi, yang ditekankan bukan hanya perasaan “aku hebat”, melainkan keyakinan yang lebih khusus: “Aku bisa melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan hal ini.”

Pengertian ini sesuai dengan gagasan Albert Bandura, psikolog yang mengembangkan teori self-efficacy. Bandura menjelaskan bahwa self-efficacy berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya mengatur dan menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu [Bandura 1997]. Dalam konteks buku induk, gagasan ini dipakai untuk menunjukkan bahwa perubahan diri tidak hanya bergantung pada keinginan, tetapi juga pada cara seseorang menilai kemampuannya untuk bertindak.

Bukan Sekadar Merasa Percaya Diri

Bagian penting dari kutipan tersebut adalah penegasan bahwa self-efficacy “bukan sekadar berpikir positif”. Ini perlu dipahami dengan hati-hati. Berpikir positif bisa membantu, tetapi tidak cukup jika terlepas dari tindakan nyata. Seseorang bisa berkata, “Aku pasti bisa mendapat nilai bagus,” tetapi jika ia tidak belajar, tidak berlatih soal, dan tidak memperbaiki kesalahan, kalimat itu lebih mirip harapan kosong daripada self-efficacy yang sehat.

Self-efficacy lebih dekat dengan keyakinan yang berbunyi, “Jika aku belajar dengan cara yang tepat, bertanya saat tidak paham, dan berlatih secara teratur, aku punya peluang untuk membaik.” Di sini ada hubungan antara keyakinan dan tindakan. Keyakinan itu bukan muncul dari paksaan untuk selalu optimis, melainkan dari pengalaman bahwa usaha tertentu dapat menghasilkan kemajuan.

Contohnya, seorang siswa yang takut matematika mungkin awalnya berpikir, “Aku tidak bisa matematika.” Jika ia langsung diminta percaya diri sepenuhnya, mungkin itu terasa palsu. Tetapi jika ia mulai mengerjakan soal yang lebih mudah, mendapat penjelasan, berhasil menyelesaikan beberapa latihan, lalu perlahan naik ke soal yang lebih sulit, keyakinannya bisa berubah. Ia tidak harus langsung berpikir, “Aku ahli matematika.” Cukup mulai dari, “Ternyata aku bisa memahami bagian ini jika belajar pelan-pelan.” Itulah bibit self-efficacy.

Keyakinan yang Spesifik terhadap Tugas

Satu hal yang sering terlewat adalah bahwa self-efficacy biasanya bersifat spesifik. Seseorang bisa memiliki self-efficacy tinggi dalam satu bidang, tetapi rendah dalam bidang lain. Misalnya, seseorang yakin bisa bermain sepak bola dengan baik, tetapi tidak yakin bisa berbicara di depan umum. Ada juga orang yang yakin mampu memahami pelajaran sejarah, tetapi takut menghadapi pelajaran fisika.

Karena itu, self-efficacy tidak sama persis dengan “percaya diri” secara umum. Percaya diri sering dipakai dalam arti luas: merasa yakin terhadap diri sendiri. Sementara self-efficacy lebih terarah pada pertanyaan: “Apakah aku yakin mampu melakukan tindakan yang dibutuhkan dalam situasi ini?”

Perbedaan ini penting bagi buku induk yang membahas perubahan diri. Jika seseorang berkata, “Aku tidak percaya diri,” kalimat itu masih terlalu luas. Lebih membantu jika ia bertanya, “Dalam hal apa aku belum yakin?” Mungkin ia tidak yakin memulai percakapan, mengatur waktu belajar, menolak ajakan yang mengganggu, atau menyampaikan pendapat. Setelah masalahnya lebih spesifik, langkah perbaikannya juga menjadi lebih jelas.

Dari Mana Self-Efficacy Tumbuh?

Bandura menjelaskan bahwa ada beberapa sumber utama yang memengaruhi self-efficacy. Sumber yang paling kuat biasanya adalah pengalaman keberhasilan langsung, yaitu pengalaman ketika seseorang mencoba sesuatu dan melihat bahwa ia bisa membuat kemajuan [Bandura 1997]. Ini cocok dengan penjelasan dalam dokumen induk: keyakinan yang sehat tumbuh dari pengalaman mencoba, latihan, umpan balik, dan bukti bahwa tindakan kecil bisa menghasilkan kemajuan.

Misalnya, seseorang yang takut berbicara di depan kelas tidak perlu langsung memaksa diri memberi pidato panjang. Ia bisa mulai dari membaca satu kalimat, lalu menjelaskan satu ide kepada teman, lalu berbicara dalam kelompok kecil. Setiap pengalaman kecil yang berhasil memberi bukti kepada diri sendiri: “Aku bisa maju sedikit.” Bukti seperti ini lebih kuat daripada sekadar nasihat, “Jangan takut.”

Sumber lain adalah melihat orang lain yang mirip dengan kita berhasil. Jika seorang siswa melihat temannya yang dulu juga kesulitan akhirnya bisa membaik karena latihan, ia mungkin berpikir, “Kalau dia bisa berkembang, mungkin aku juga bisa.” Ini disebut pengalaman vikarius atau belajar melalui pengamatan. Namun pengaruhnya biasanya lebih kuat jika orang yang diamati terasa cukup mirip dengan diri kita, bukan sosok yang terlalu jauh atau tidak realistis.

Dukungan dari orang lain juga dapat membantu. Ucapan guru, orang tua, teman, atau pelatih bisa memperkuat keberanian untuk mencoba. Tetapi dukungan ini perlu realistis. Kalimat seperti “Kamu pasti langsung sempurna” bisa memberi tekanan. Lebih sehat jika dukungannya berbunyi, “Kamu belum bisa sepenuhnya, tetapi latihanmu sudah lebih baik, dan langkah berikutnya jelas.”

Keadaan tubuh dan emosi juga berpengaruh. Saat seseorang sangat lelah, cemas, atau tegang, ia mungkin menilai kemampuannya lebih rendah. Sebaliknya, jika ia cukup istirahat dan merasa lebih tenang, ia mungkin lebih siap mencoba. Ini bukan berarti rasa cemas selalu buruk. Kadang cemas hanya tanda bahwa tugas itu penting. Namun jika kecemasan terlalu besar, seseorang bisa mengira, “Aku tidak mampu,” padahal sebenarnya ia hanya sedang sangat tertekan.

Mengapa Konsep Ini Penting untuk Perubahan Diri?

Dalam dokumen induk, self-efficacy diletakkan dalam pembahasan tentang cara pandang. Ini tepat, karena cara seseorang menilai kemampuannya dapat memengaruhi pilihan tindakannya. Jika seseorang yakin bahwa usahanya tidak akan menghasilkan apa pun, ia lebih mudah menyerah sebelum mencoba. Sebaliknya, jika ia percaya bahwa tindakan kecil dapat membuatnya sedikit lebih baik, ia lebih mungkin mulai bergerak.

Namun perlu hati-hati: self-efficacy bukan jaminan keberhasilan. Seseorang bisa yakin dan tetap menghadapi hambatan nyata, seperti kurangnya waktu, kurangnya dukungan, kondisi kesehatan, tekanan ekonomi, atau lingkungan yang tidak aman. Jadi, konsep ini tidak boleh dipakai untuk menyalahkan orang yang belum berhasil. Self-efficacy adalah salah satu faktor psikologis yang membantu tindakan, bukan satu-satunya penyebab kesuksesan.

Penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa self-efficacy berkaitan dengan motivasi, ketekunan, pilihan strategi, dan prestasi belajar, meskipun hubungan itu juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain [Schunk 1991; Zimmerman 2000]. Dalam bahasa sederhana, orang yang percaya bahwa ia bisa belajar biasanya lebih mau mencoba strategi, bertahan saat sulit, dan memperbaiki kesalahan. Tetapi keyakinan itu perlu ditopang oleh cara belajar yang benar dan kondisi yang memungkinkan.

Keyakinan yang Sehat Harus Bisa Diuji

Salah satu kekuatan penjelasan dalam dokumen induk adalah membedakan keyakinan yang “pura-pura kuat” dari keyakinan yang realistis. Self-efficacy yang sehat bukan berarti menganggap semua hal mudah. Ia justru mengakui kesulitan, lalu mencari tindakan yang masuk akal.

Misalnya, jika seseorang belum pernah lari jauh, keyakinan yang tidak realistis mungkin berkata, “Besok aku pasti bisa lari 10 kilometer tanpa latihan.” Keyakinan yang lebih sehat berkata, “Aku bisa mulai berjalan cepat 10 menit, lalu perlahan menambah jarak.” Yang kedua lebih sederhana, tetapi lebih kuat karena terhubung dengan tindakan nyata.

Dengan begitu, self-efficacy dapat dilihat sebagai jembatan antara niat dan kebiasaan. Niat berkata, “Aku ingin berubah.” Self-efficacy berkata, “Aku percaya ada langkah yang bisa kulakukan.” Kebiasaan berkata, “Aku akan mengulang langkah itu sampai menjadi bagian dari hidupku.”

Inilah alasan istilah self-efficacy penting dalam bagian pendahuluan buku. Ia membantu pembaca memahami bahwa perubahan diri tidak dimulai dari memaksa diri menjadi sempurna, melainkan dari membangun bukti kecil bahwa diri kita mampu bertindak. Keyakinan itu tumbuh bukan karena kita menipu diri dengan kata-kata indah, tetapi karena kita memberi diri sendiri pengalaman nyata: mencoba, belajar, memperbaiki, dan mencoba lagi.

References

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

Schunk, D. H. (1991). Self-efficacy and academic motivation. Educational Psychologist, 26(3–4), 207–231. https://doi.org/10.1080/00461520.1991.9653133

Zimmerman, B. J. (2000). Self-efficacy: An essential motive to learn. Contemporary Educational Psychology, 25(1), 82–91. https://doi.org/10.1006/ceps.1999.1016

τ TheoryTrace