“Rasional” Bukan Berarti Tanpa Emosi
Kata “rasional” dalam bagian pembuka buku ini sengaja ditempatkan di dalam tanda kutip: orang yang “rasional” sering dibayangkan sebagai orang yang tidak dikuasai emosi. Tanda kutip itu penting. Ia memberi sinyal bahwa penulis tidak sedang langsung menerima makna sehari-hari tersebut sebagai kebenaran, melainkan sedang menunjuk sebuah anggapan umum yang perlu diperiksa.
Dalam percakapan sehari-hari, “rasional” sering dipakai untuk memuji orang yang tampak tenang, tidak mudah marah, tidak menangis, tidak panik, dan mampu membuat keputusan dengan “kepala dingin”. Sebaliknya, orang yang emosional sering dianggap tidak objektif, tidak dewasa, atau tidak bisa berpikir jernih. Pembukaan dokumen ini menunjukkan bahwa anggapan seperti itu sudah lama hidup dalam budaya populer: akal dan emosi dibayangkan seperti dua kekuatan yang saling bertentangan. Akal ditempatkan di sisi terang; emosi ditempatkan di sisi yang mengganggu.
Namun arah utama buku ini berbeda. Buku ini ingin menjelaskan bahwa menjadi rasional tidak sama dengan menghapus emosi. Lebih tepatnya, rasionalitas manusia perlu dipahami sebagai kemampuan menilai keadaan, mempertimbangkan informasi, mengenali nilai, memperkirakan akibat, dan memilih tindakan secara bertanggung jawab. Dalam proses itu, emosi tidak selalu menjadi musuh. Kadang emosi memang dapat mempersempit perhatian, membuat seseorang reaktif, atau mendorong keputusan tergesa-gesa. Tetapi emosi juga dapat memberi sinyal tentang bahaya, ketidakadilan, kehilangan, kelekatan, kebutuhan, dan nilai pribadi. Dengan kata lain, emosi dapat mengganggu penalaran, tetapi juga dapat memberi bahan penting bagi penalaran.
Rasionalitas sebagai penilaian yang lebih utuh
Untuk memahami kata “rasional”, kita perlu membedakan dua hal. Pertama, ada reaksi emosional mentah, yaitu dorongan awal yang muncul cepat: ingin membalas, melarikan diri, menangis, menyerang, atau menutup diri. Kedua, ada penilaian reflektif, yaitu kemampuan berhenti sejenak dan bertanya: “Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sedang kurasakan? Apakah tafsirku sudah tepat? Tindakan apa yang paling sesuai dengan nilai dan tujuan jangka panjangku?”
Dalam pengertian yang lebih matang, orang rasional bukan orang yang tidak punya dorongan emosional. Ia tetap bisa takut, marah, sedih, cemburu, kecewa, atau malu. Yang membedakan adalah kemampuannya untuk tidak langsung menyerahkan seluruh keputusan kepada dorongan pertama. Ia dapat menggunakan emosi sebagai informasi, lalu memeriksanya.
Misalnya, seseorang merasa marah setelah menerima kritik di tempat kerja. Jika ia menganggap rasional berarti “tidak boleh marah”, ia mungkin menekan emosinya dan berpura-pura baik-baik saja. Tetapi kemarahan yang ditekan tanpa dipahami bisa muncul kembali sebagai sinisme, pasif-agresif, atau kelelahan emosional. Sebaliknya, jika ia menganggap kemarahan sebagai satu-satunya kebenaran, ia mungkin membalas dengan kata-kata kasar. Pilihan yang lebih matang berada di antara keduanya: ia mengakui, “Aku marah karena merasa direndahkan,” lalu memeriksa apakah kritik itu memang merendahkan, apakah ada bagian yang berguna, dan bagaimana ia bisa merespons tanpa merusak hubungan atau martabat diri.
Di sini, rasionalitas tidak berarti dingin tanpa rasa. Rasionalitas berarti mampu menghubungkan perasaan, fakta, tujuan, nilai, dan konsekuensi.
Mengapa pemisahan akal dan emosi terlalu sederhana
Parent document1 menyatakan bahwa kehidupan mental manusia tidak dapat dipahami dengan memisahkan pikiran dari perasaan secara terlalu kaku. Klaim ini sejalan dengan banyak kajian psikologi dan neurosains modern. Antonio Damasio, misalnya, terkenal melalui gagasan bahwa emosi dan sinyal tubuh berperan dalam pengambilan keputusan, terutama ketika seseorang harus memilih di antara kemungkinan yang kompleks dan tidak pasti [Damasio 1994]. Gagasan ini sering disebut terkait dengan somatic marker hypothesis: pengalaman tubuh dan emosi dapat menandai pilihan tertentu sebagai berisiko, menjanjikan, mengancam, atau penting.
Hal ini tidak berarti setiap emosi selalu benar. Rasa takut bisa muncul karena bahaya nyata, tetapi juga bisa muncul karena trauma lama, informasi yang keliru, atau imajinasi yang berlebihan. Rasa curiga bisa melindungi seseorang dari penipuan, tetapi juga bisa merusak hubungan jika tidak berdasar. Karena itu, emosi perlu didengarkan, bukan langsung ditaati. Ia adalah sinyal, bukan hakim terakhir.
Dalam bahasa sederhana, emosi mirip lampu indikator di dasbor mobil. Ketika lampu menyala, kita tidak bijaksana jika langsung panik dan membuang mobil. Tetapi kita juga tidak bijaksana jika menutup lampu itu dengan selotip dan pura-pura tidak ada masalah. Tindakan yang lebih rasional adalah memeriksa: lampu apa yang menyala, apa penyebabnya, apakah masalahnya kecil atau serius, dan apa langkah berikutnya.
Analogi ini membantu menjelaskan mengapa buku ini menolak gambaran akal dan emosi sebagai dua musuh tetap. Akal yang baik membutuhkan informasi. Emosi sering menjadi salah satu sumber informasi tentang apa yang penting bagi kita. Tetapi informasi itu harus ditafsirkan dengan hati-hati.
“Tidak dikuasai emosi” berbeda dari “tidak memiliki emosi”
Bagian yang perlu dijaga dalam penjelasan ini adalah perbedaan antara tidak dikuasai emosi dan tidak memiliki emosi. Dalam arti tertentu, ungkapan “tidak dikuasai emosi” masih bisa benar jika dimaksudkan sebagai kemampuan regulasi diri: seseorang tidak bertindak impulsif hanya karena sedang marah, takut, atau terluka. Psikologi regulasi emosi memang mempelajari bagaimana manusia memengaruhi emosi yang mereka alami, kapan emosi itu muncul, bagaimana emosi itu dirasakan, dan bagaimana emosi itu diekspresikan [Gross 1998].
Namun jika “tidak dikuasai emosi” dipahami sebagai “semakin sedikit emosi semakin rasional”, maka anggapan itu menjadi terlalu sempit. Manusia tidak membuat keputusan hanya dengan menghitung fakta dingin. Bahkan keputusan yang tampak logis sering melibatkan nilai: apa yang dianggap penting, risiko apa yang dapat diterima, siapa yang harus dilindungi, dan tujuan apa yang layak diperjuangkan. Nilai-nilai ini biasanya tidak hadir sebagai angka netral saja; ia juga terasa secara emosional.
Contohnya, seseorang memilih merawat orang tua yang sakit meskipun itu melelahkan. Keputusan itu mungkin rasional karena sesuai dengan nilai keluarga, kasih sayang, tanggung jawab, dan pertimbangan jangka panjang. Tetapi keputusan itu tidak dapat dipahami tanpa emosi. Cinta, iba, rasa tanggung jawab, sedih, lelah, dan takut kehilangan semuanya menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Menghapus emosi dari keputusan itu justru membuat kita kehilangan sebagian maknanya.
Rasionalitas yang manusiawi
Dalam penelitian tentang kecerdasan emosional, Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan yang berkaitan dengan mengenali, menggunakan, memahami, dan mengelola emosi [Salovey & Mayer 1990]. Model kemampuan yang dikembangkan kemudian menekankan bahwa emosi dapat membantu berpikir jika dipersepsi dan dikelola dengan tepat [Mayer, Salovey, & Caruso 2004]. Ini dekat dengan arah parent document: kecerdasan emosional bukan berarti selalu lembut, selalu tenang, atau selalu menyenangkan orang lain. Ia berarti mampu memahami kehidupan emosional secara lebih akurat dan bertanggung jawab.
Maka, ketika pembukaan buku menyebut orang yang “rasional”, pembaca sebaiknya menangkap adanya kritik terhadap makna populer yang terlalu kaku. Buku ini tampaknya ingin menggeser pemahaman dari “rasional berarti bebas dari emosi” menuju “rasional berarti mampu berelasi secara sehat dengan emosi”. Perubahan kecil ini penting. Jika emosi dianggap musuh, kita akan cenderung menekan, menyangkal, atau malu terhadapnya. Jika emosi dianggap satu-satunya kebenaran, kita akan mudah membenarkan tindakan impulsif. Tetapi jika emosi dianggap bagian dari sistem penilaian manusia, kita bisa belajar mendengarkannya, memeriksanya, dan mengarahkannya.
Dengan demikian, kata “rasional” di sini membuka persoalan dasar buku: bagaimana manusia bisa berpikir jernih tanpa memusuhi perasaan, dan bagaimana manusia bisa menghargai emosi tanpa diperbudak olehnya. Rasionalitas yang matang bukanlah keadaan beku tanpa emosi. Ia adalah kemampuan untuk hadir, merasakan, menilai, dan bertindak dengan kesadaran yang lebih luas.
References
Damasio, A. R. (1994). Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain. Putnam.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
James, W. (1884). What is an emotion? Mind, 9(34), 188–205.
Mayer, J. D., Salovey, P., & Caruso, D. R. (2004). Emotional intelligence: Theory, findings, and implications. Psychological Inquiry, 15(3), 197–215.
Salovey, P., & Mayer, J. D. (1990). Emotional intelligence. Imagination, Cognition and Personality, 9(3), 185–211.