Memahami Communicative Competence: Benar, Sesuai, dan Bermakna
Istilah communicative competence dalam bagian pendahuluan buku ini menunjuk pada gagasan penting dalam pembelajaran bahasa: seseorang tidak cukup hanya mengetahui aturan grammar, tetapi juga perlu mampu memakai bahasa itu dalam situasi nyata secara tepat, sopan, jelas, dan sesuai tujuan. Dalam konteks buku ini, istilah tersebut mendukung prinsip bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna, bukan sekadar kumpulan rumus.
Secara sederhana, communicative competence dapat dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Kata competence berarti kemampuan atau kecakapan. Kata communicative berarti berkaitan dengan komunikasi. Jadi, istilah ini tidak hanya bertanya, “Apakah kalimat ini benar menurut grammar?”, tetapi juga, “Apakah kalimat ini cocok untuk situasi ini?”, “Apakah pendengar akan memahami maksud saya?”, dan “Apakah ungkapan ini sopan atau terlalu kasar?”
Dari grammar menuju komunikasi
Dalam pembelajaran bahasa tradisional, perhatian sering diberikan pada bentuk bahasa: tense, subject, verb, object, article, preposition, dan sebagainya. Hal ini penting. Misalnya, kalimat:
She goes to school every day.
lebih tepat secara grammar daripada:
She go to school every day.
Namun, kemampuan bahasa tidak berhenti di sana. Seseorang bisa saja membuat kalimat yang benar secara grammar, tetapi kurang sesuai secara sosial. Contoh dalam dokumen induk sangat membantu:
Give me your pen.
Could I borrow your pen, please?
Kedua kalimat tersebut dapat dipahami. Kalimat pertama, Give me your pen, secara grammar dapat diterima: ada verb give, object me, dan noun phrase your pen. Tetapi dalam banyak situasi, kalimat itu terdengar seperti perintah langsung. Jika digunakan kepada teman dekat, mungkin masih dapat diterima tergantung nada suara dan hubungan. Namun jika digunakan kepada guru, atasan, atau orang yang belum akrab, kalimat itu bisa terdengar kurang sopan.
Kalimat kedua, Could I borrow your pen, please?, lebih panjang, tetapi lebih halus. Kata could membuat permintaan terdengar lebih sopan, borrow menunjukkan bahwa pena itu hanya dipinjam, dan please menambah kesan hormat. Di sini terlihat bahwa komunikasi bukan hanya tentang “benar atau salah”, tetapi juga tentang hubungan antarorang, tujuan pembicaraan, dan situasi sosial.
Inilah inti dari communicative competence: pembelajar bahasa perlu belajar bentuk bahasa, tetapi juga belajar kapan, kepada siapa, dan untuk tujuan apa bentuk itu digunakan.
Asal gagasan: bahasa sebagai tindakan sosial
Konsep communicative competence sering dikaitkan dengan Dell Hymes, seorang ahli bahasa dan antropologi. Hymes mengembangkan gagasan ini sebagai tanggapan terhadap pandangan yang terlalu menekankan kemampuan gramatikal saja. Menurut Hymes, orang yang benar-benar menguasai bahasa tidak hanya tahu apakah suatu kalimat mungkin dibentuk secara grammar, tetapi juga tahu apakah kalimat itu layak digunakan dalam suatu masyarakat dan situasi tertentu [Hymes 1972].
Misalnya, secara grammar seseorang dapat berkata:
I want food.
Kalimat itu bisa benar. Tetapi jika seseorang sedang berada di restoran, ungkapan yang lebih wajar mungkin:
I’d like to order some food, please.
Atau:
Could I see the menu, please?
Perbedaannya bukan hanya pada grammar, tetapi pada kebiasaan sosial dan cara orang biasanya berinteraksi dalam konteks tertentu. Bahasa selalu hidup dalam situasi: di kelas, di rumah, di kantor, di toko, di bandara, di email, di rapat, dan di percakapan santai.
Kemudian, Canale dan Swain mengembangkan gagasan ini untuk pembelajaran dan pengujian bahasa kedua. Mereka menjelaskan bahwa pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa perlu memperhatikan beberapa komponen kemampuan, bukan hanya grammar [Canale & Swain 1980]. Model mereka menjadi salah satu dasar penting dalam pengajaran bahasa komunikatif.
Beberapa unsur dalam communicative competence
Untuk pembelajar pemula, istilah ini dapat dibayangkan sebagai gabungan beberapa kemampuan yang saling membantu. Penjelasan berikut menyederhanakan model yang dikembangkan oleh Canale dan Swain, serta pengembangan berikutnya oleh Canale [Canale & Swain 1980; Canale 1983].
Pertama, ada grammatical competence, yaitu kemampuan menggunakan bentuk bahasa dengan benar. Ini mencakup kosakata, grammar, pronunciation, spelling, dan struktur kalimat. Misalnya, pembelajar perlu tahu bahwa dalam simple present, subjek he, she, dan it biasanya memakai verb dengan akhiran -s:
She works in a hospital.
Kemampuan ini tetap penting. Communicative competence tidak berarti grammar boleh diabaikan. Jika grammar terlalu sering keliru, pesan bisa menjadi tidak jelas.
Kedua, ada sociolinguistic competence, yaitu kemampuan memilih bahasa yang sesuai dengan konteks sosial. Inilah yang tampak dalam perbedaan antara:
Give me your pen.
dan:
Could I borrow your pen, please?
Keduanya berhubungan dengan permintaan, tetapi tingkat kesopanannya berbeda. Pembelajar perlu memahami bahwa bahasa kepada teman dekat bisa berbeda dari bahasa kepada guru, pelanggan, atasan, atau orang asing.
Ketiga, ada discourse competence, yaitu kemampuan menyusun kalimat-kalimat menjadi percakapan atau teks yang utuh. Seseorang tidak hanya membuat satu kalimat benar, tetapi juga menghubungkan ide dengan jelas. Misalnya, dalam email kerja, kita tidak hanya menulis kalimat acak. Kita membuka dengan sapaan, menyampaikan tujuan, memberi informasi, lalu menutup dengan sopan:
Dear Ms. Tan,
I am writing to confirm our meeting tomorrow.
The meeting will start at 10 a.m.
Thank you.
Keempat, ada strategic competence, yaitu kemampuan memakai strategi saat komunikasi tidak berjalan sempurna. Misalnya, ketika lupa satu kata, pembelajar dapat menjelaskan dengan kata lain. Jika lupa kata wallet, ia bisa berkata:
It is a small thing where I keep my money and cards.
Atau jika tidak memahami ucapan lawan bicara, ia dapat bertanya:
Could you repeat that, please?
Kemampuan seperti ini sangat penting karena komunikasi nyata jarang sempurna. Bahkan penutur mahir pun kadang perlu meminta klarifikasi, mengulang, memperbaiki kalimat, atau mencari cara lain untuk menjelaskan maksud.
Mengapa konsep ini penting untuk buku belajar bahasa Inggris?
Dalam dokumen induk, istilah communicative competence muncul setelah penjelasan bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna. Ini tepat, karena konsep tersebut mendukung arah buku: belajar bahasa Inggris bukan hanya menghafal aturan, tetapi memakai bahasa untuk kebutuhan nyata.
Artinya, ketika buku ini mengajarkan grammar, vocabulary, dan pronunciation, ketiganya sebaiknya tidak dipahami sebagai bagian terpisah dari komunikasi. Vocabulary memberi bahan untuk berbicara atau menulis. Grammar membantu menyusun makna dengan lebih jelas. Pronunciation membantu pesan terdengar dan dipahami. Tetapi semuanya perlu dipakai dalam situasi nyata: meminta bantuan, memperkenalkan diri, menulis email, bertanya arah, mengikuti rapat, membaca instruksi, atau menyampaikan pendapat.
Contoh sederhana dapat dilihat dari ungkapan meminta bantuan. Secara makna dasar, pembelajar mungkin ingin mengatakan “Bantu saya.” Dalam bahasa Inggris, ada beberapa pilihan:
Help me.
Can you help me?
Could you help me, please?
Would you mind helping me with this?
Pilihan pertama sangat langsung. Dalam keadaan darurat, seperti ketika seseorang jatuh atau ada bahaya, Help me! sangat wajar. Tetapi dalam situasi biasa, misalnya meminta bantuan guru atau rekan kerja, bentuk yang lebih sopan seperti Could you help me, please? biasanya lebih sesuai. Jadi, tidak ada satu kalimat yang selalu terbaik untuk semua situasi. Kalimat yang baik bergantung pada konteks.
Hal yang perlu diperiksa dengan hati-hati
Penjelasan dalam dokumen induk menyatakan bahwa communicative competence adalah kemampuan memakai bahasa “bukan hanya secara gramatikal, tetapi juga sesuai konteks sosial dan tujuan komunikasi.” Pernyataan ini sejalan dengan pemahaman umum tentang konsep tersebut, terutama dalam tradisi Hymes serta Canale dan Swain. Namun, jika ingin sangat teliti secara akademik, konsep ini sebenarnya lebih luas daripada satu kalimat definisi sederhana.
Canale dan Swain tidak hanya membicarakan grammar dan konteks sosial, tetapi juga strategi komunikasi dan, dalam pengembangan selanjutnya, hubungan antarkalimat dalam wacana [Canale & Swain 1980; Canale 1983]. Jadi, definisi dalam buku induk dapat dianggap sebagai penjelasan awal yang cocok untuk pembaca umum, bukan definisi lengkap untuk kajian linguistik tingkat lanjut.
Dengan kata lain, bagian itu tidak perlu dibaca sebagai definisi teknis yang lengkap, melainkan sebagai pintu masuk: pembelajar diajak menyadari bahwa bahasa Inggris yang baik bukan hanya bahasa Inggris yang “benar rumusnya”, tetapi juga bahasa Inggris yang tepat digunakan dalam kehidupan nyata.
Kesimpulan kecil
Communicative competence membantu kita melihat belajar bahasa Inggris secara lebih utuh. Grammar tetap penting, tetapi grammar adalah bagian dari kemampuan yang lebih besar. Pembelajar juga perlu belajar kesopanan, konteks, tujuan, hubungan dengan lawan bicara, cara menyusun pesan, dan strategi ketika mengalami kesulitan.
Karena itu, pertanyaan yang baik dalam belajar bahasa Inggris bukan hanya:
Is this sentence correct?
tetapi juga:
Is this sentence appropriate?
Is it polite enough?
Is it clear?
Does it fit the situation?
Jika pembelajar mulai berpikir dengan cara ini, ia tidak hanya belajar “aturan bahasa Inggris”, tetapi mulai membangun kemampuan berkomunikasi yang nyata.
References
Canale, M. (1983). From communicative competence to communicative language pedagogy. In J. C. Richards & R. W. Schmidt (Eds.), Language and Communication (pp. 2–27). Longman.
Canale, M., & Swain, M. (1980). Theoretical bases of communicative approaches to second language teaching and testing. Applied Linguistics, 1(1), 1–47. https://doi.org/10.1093/applin/I.1.1
Hymes, D. H. (1972). On communicative competence. In J. B. Pride & J. Holmes (Eds.), Sociolinguistics: Selected Readings (pp. 269–293). Penguin.